Adaptasi Kebiasaan Baru di Bidang Literasi


Namaku Teguh, aku adalah seorang kepala keluarga dengan seorang anak yang baru berusia 12 bulan. Aku bekerja sebagai seorang pedagang Es Kepal Milo di pasar malam, yang tiap malam berpindah lokasi, namun akan kembali lagi ke lokasi yang sama, di minggu berikutnya.

Terlihat sepele memang, bagi sebagian orang. Sebelum pandemi, penghasilanku bisa melebihi UMR di wilayahku. Karena aku sangat menjaga kualitas dan rasa dari produkku, banyak pelangganku yang senantiasa datang untuk melariskan daganganku.

Praktis, dengan kondisi yang benar-benar baru ini, aku hanya bisa berjualan di depan rumah, yang pastinya tidak dapat seramai ketika di pasar malam, awalnya ekonomi keluargaku masih bisa bertahan, namun ku tunggu hingga hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga bulan berganti bulan.

Mengapa pandemi ini tak kunjung berakhir? Akhirnya tak mampu juga untuk sekedar bertahan. Kujual semua aset yang masih dapat kujual, dan kusisakan aset utama yang masih dapat digunakan untuk produksi sekarang dan kedepan.

Walau masuk new normal, dan beberapa tempat sudah diperbolehkan untuk berjualan. Namun, ternyata tak serta-merta mengembalikan penghasilanku yang seperti dulu. Duh Gusti, ternyata ini semua belum berakhir. Sembari berusaha dengan usaha lamaku, aku mencoba semua hal yang “mungkin” bisa menyelamatkan kondisi ekonomi keluarga kami.

Kucoba berbagai resep makanan yang murah, tapi ternyata memang semua orang di sekitarku juga mengalami kesusahan yang sama, dan berakhir dengan merugi. Alhamdulillah, produk Es Kepal-ku masih tetap laku walau terhitung tidak murah. Aku bersyukur, branding produkku masih kuat untuk tetap mendapat rizki darimu ya Allah.

Menghadapi kenyataan bahwa masih belum berhasil di usaha kuliner selain Es Kepal, aku tetap mencari peluang lain, yang masih dapat menghasilkan. Sampai akhirnya aku membaca salah satu artikel mengenai penghasilan seorang penulis. Wow, sangat fantastis, ternyata untuk mendapatkan royalti penulis, tak harus mencetak buku terlebih dahulu dan mengeluarkan modal besar di awal. Ya, melalui media daring sekarang semua orang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Aku tahu, untuk hasil yang fantastis, penulis tersebut telah melewati berbagai macam proses belajar yang lama dan berdarah-darah dahulu, minimnya respon, hingga penolakan dari pembaca sepertinya mereka lalui, pasti ada berbagai macam ide dan tulisan yang telah di-karyakan untuk menjadi seperti sekarang?

Klise memang, tapi bukankah mendapat rejeki juga bisa menjadi alasan untuk digunakan sebagai motivasi dalam belajar? Toh, nanti juga akan dapat menemukan alasan-alasan lain yang lebih “mulia”. Tulisan sebagai media dakwah misalnya?

Oleh karena itu, ketika bertemu dengan media belajar yang gratis seperti One Day One Post sepertinya merupakan peluang untukku menyelami dunia Literasi yang selama ini hanya sekedar menikmati karya orang lain, mungkin inilah saatnya untuk belajar membuat karya yang dapat meng-inspirasi dan dinikmati oleh orang lain?

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments