Hore, Aku Menemukan Pintu Air

Hore, Aku Menemukan Pintu Air

By. TPj


Assalamualaikum Sobat Mikir gimana kabarnya? Cakmin berharap semua dalam keadaan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Lahir dan besar di Surabaya menjadikan cakmin kaget untuk kali pertama pindah domisili di Krian, Sidoarjo. Walau sebenarnya jarak tempuh rumah Surabaya dengan Krian hanya sekitar 40 menit, ternyata ada perbedaan signifikan antara Krian dengan Surabaya. Perbedaan tersebut adalah jika Surabaya identik dengan kota pelabuhan dan perkantoran. Berbeda dengan Krian, salah satu kecamatan di Sidoarjo. Di sini, kami masih dapat melihat banyak persawahan. (halah liat sawah aja seneng cakmin, dasar ndeso, eh nguto).

Dikarenkan hoby cakmin adalah ingin tahu atau bahasa gaulnya Kepo. Cakmin juga kepo tentang bagaimana para petani untuk dapat mengairi sawahnya, tentunya dengan pengamatan langsung dulu, baru mencari referensi kemudian. Hehe, biar bisa tau rasanya Issac Newton pas menemukan hukum grafitasi. Jika hasil proses pengamatan lapangan sesuai dengan referensi, wah bukan main senangnya.

Sebelum mencari tahu, cakmin berdialektika dulu bagaimana ya caranya? Kalau di Surabaya kan pakai gayung, selang, atau maksimal pakai pompa besar seperti DKRTH, mobil tanki air yang selalu menyiram taman kecil atau pulau jalan yang memang ditanami berbagai macam tanaman. Dari hipotesa tersebut, cakmin mencari tahu langsung. Kok, ga pernah dengar ada suara mesin ya? Beberapa hari dengan beberapa selingan waktu untuk lewat, cakmin tidak pernah mendapati suara motor yang digunakan untuk mengairi sawah dengan selang.

Lalu cakmin mecoba mencari data lain yang mungkin bisa dianalisa. Dan, jeng-jeng, ternyata hampir setiap sawah selalu ada jalur air, seperti sungai kecil, awalnya cakmin tidak terpikir untuk menggunakan realitas tersebut, karena cakmin beranggapan bahwa ya jelas lah kalau setiap Tata Ruang Kota pasti butuh saluran pembuangan air atau sering disebut selokan atau got. Tapi ternyata di beberapa tempat ada 2 saluran yang bersebelahan. Lah ini kenapa ga efisien banget ya? Kenapa ga dijadikan satu saja? Kan enak hemat tempat.

Dan disitulah akhirnya cakmin baru paham, bahwa saluran air yang lebih deka dengan sawah adalah saluran air yang bersih, dipisah dengan saluran untuk limbah rumah tangga. Pertanyaan berikutnya muncul, apa kalau airnya meluap sawahnya juga banjir dong? Masa iya sawah tergenang air terus menerus, pupuknya terbawa air dong? Atau mungkin airnya sebelum masuk sawah diberi pupuk, biar ada yang nempel gitu? Berbagai pertanyaan lanjutan mencoba berbut untuk minta dijawab. Dari situlah, cakmin lanjutkan pengamatan untuk mencari tahu teknologi apa sih yang digunakan.

Teknologi itu adalah Pintu Air

Akhirnya terjawab sudah bahwa teknologi tersebut merupakan pintu air, penemuan fakta ini sekaligus menjawab berbagai pertanyaan lanjutan cakmin, tentang apakah harus semua sawah harus dalam satu ketinggian? Bagaimana jika air sedang surut? Bagaimana cara mengatasi tingginya debit air yang lewat sehingga tidak merusak tanaman?

Memang sebelumnya tidak terfikir mereka menggunakan teknologi pintu air, karena setahu cakmin pintu air yang di Surabaya digunakan untuk mengatur debit air agar wilayah hilir (yang dekat dengan pantai) tidak langsung mendapat kiriman air sekaligus dalam satu waktu yang dapat mengakibatkan banjir.

Cakmin semakin yakin, karena mendapat fakta lain yaitu di satu aliran sungai terdapat beberapa pintu air yang dipasang, otomatis jika debit air kecil, tinggal tutup saja pintunya agar ketinggian air cukup untuk dapat memasuki jalur air yang sudah dibuat untuk terhubung ke sawah-sawah. Di tiap sawah juga ada pintu air yang berfungsi sebagai pengatur apakah air boleh masuk atau tidak.

Hal ini berarti, ketika petani ingin mengairi sawah, dia harus menutup pintu sungai lalu membuka pintu sawah, jika sawahnya sudah cukup, tinggal tutup airnya, dan buka pintu utama yang ada di sungai. Walau tidak semua data didapat, cakmin dapat menemukan hal yang lebih banyak. Karena cakmin menggunakan cara berpikir induksi dan deduksi.

Semisal, karena ada beberapa jumlah sawah dalam satu lokasi. Otomatis, untuk menentukan kapan buka dan tutup pintu air utama butuh koordinasi dengan pemilik/pekerja sawah lain. Agar lebih efisien dalam proses menunggu air dapat naik atau turun. Tidak butuh ketinggian yang sama antara sawah yang di awal aliran air dengan yang di akhir karena masing-masing punya pintu, kecuali sawah di satu wilayah tertentu.

Penutup

Memang akan jauh lebih mudah jika cakmin langsung bertanya pada petani mengenai rumusan masalah yang cakmin buat sendiri di awal. Tapi cakmin memilih untuk berdialektika, menggunakan data dan analisa cakmin serta proses pengamatan yang cukup panjang untuk dapat menjawabnya. 

Pada proses tersebut ada rasa berdebar, semakin bersemangat, bak detektif yang sedang berkejaran dengan penjahat utama. Dari satu misteri muncul misteri yang lain, semua berkesinambungan yang akhirnya bermuara pada suatu kesimpulan yang menjadi klimaks dari sebuah perjalanan panjang.

Kalau sobat mikir, misteri apa yang pernah sobat pecahkan?

Stay Hungry, Stay Foolish – Steve Jobs

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

4 Comments

  1. Replies
    1. Iya, alhamdulillah. Kalau belum ya cari lagi.

      Delete
  2. aku nguto juga wahaha seneng banget ke sawah tapi nggak pernah kepikiran buat belajar sesuatu tentang aliran air disana, penganut orang yg sukanya nikmat-nikmat nggak suka mikir xDD keren kak setiap mampir kesini selalu nemu insight baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. Alhamdulillah jika bisa bermanfaat.

      Delete