Mendapat Kemalangan adalah Takdir Allah, Benarkah?

Mendapat Kemalangan adalah Takdir Allah, Benarkah?

By. TPj


Assalamualaikum Sobat Mikir, bagaimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin). Agar sobat mikir ga bosan, kali ini aku akan mengawali artikel hari ini dengan berbagi sebuah cerita yang semoga nanti kita bisa ambil pelajaran tentangnya.

Toni, Ani dan Ranking Kelas.

Toni adalah seorang anak berasal dari keluarga yang broken home. Seperti anak dari keluarga broken home lainnya Toni kekurangan kasih sayang dan perhatian. Toni iri kepada Ani sang juara kelas, dirinya menganggap Ani dapat disukai dan mendapat perhatian dari banyak teman lantaran dirinya mendapat Ranking Kelas.

Karena ingin mendapat perhatian seperti Ani, maka Toni berusaha meniru semua yang dilakukan Ani. Toni mulai mencontoh apapun yang dilakukan Ani. Mulai kegiatannya suka membuka dan melihat buku, membuat catatan, melihat depan ketika guru di kelas dan segala apa yang bisa Toni lihat tentang Ani di sekolah.

Setiap hari dilalui tanpa sedikitpun melewatkan kegiatan meniru Ani. Hingga tiba saatnya penerimaan rapor. Hari yang sangat dinanti oleh Toni, dirinya yakin dia akan jadi juara kelas dan mendapat perhatian dari banyak teman. Satu persatu nama siswa di kelas dipanggil kedepan, sampai datang giliran nama Toni yang dipanggil.

Setelah rapor diterima oleh orang tuanya, segera Toni berlari untuk melihat bagaimana hasil rapornya. Ketika membuka rapor, langsung hancur hati Toni melihat kenyataan bahwa dirinya berada pada ranking bawah, sama seperti sebelumnya. Walaupun dirinya menangis sejadinya. Tak dapat merubah apa yang telah tertulis di depannya.

Amal Perbuatan berangkat dari Niat, namun hasilnya ditentukan dengan usaha yang sesuai dengan sunnatullah atau tidak.

Apa yang salah dari Toni? Bukankah dirinya sudah mengerjakan apa yang Ani kerjakan? Lantas mengapa nilainya tidak kunjung membaik?

Ya, jawabannya adalah tidak terpenuhinya sunnatullah (hukum Allah) untuk mendapat ranking kelas. Mungkin sekilas yang dikerjakan oleh Toni dan Ani sama, tapi nilai dari masing-masing perbuatan mereka jelaslah berbeda.

Ani membuka buku untuk membaca dan memahami, sedang Toni hanya meniru. Ani melihat depan untuk memperhatikan guru dengan seksama, sedangkan Toni walau wajahnya menghadap depan, namun entah pikirannya sedang kemana. Sehingga apa yang dilakukan Ani adalah memahami sedangkan Toni hanya meniru perilaku, tanpa mengikuti prinsip jalan mencapai kesuksesan untuk menjadi ranking kelas.

 

Hikmah

Mungkin cerita di atas bisa jadi tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Namun percayalah, cakmin seringkali menjumpai fenomena perilaku Toni di sekitar. Ada orang yang menganggap bahwa dirinya miskin, bodoh, gagal dalam cinta, kehilangan orang yang disayang dan lain sebagainya adalah karena Takdir Allah.

Ada orang yang berusaha keras bagaimanapun, tetap saja miskin. Padahal bisa jadi caranya salah, ketika dapat rejeki tidak digunakan untuk investasi malah digunakan untuk konsumsi dan tak menyisakan sedikitpun untuk digunakan sebagai modal untuk mengembangkannya. Ujung-ujungnya kembali meyakini bahwa mereka kembali miskin karena takdir Allah.

Secara tidak langsung menyalahkan Allah yang membuat takdir mereka yang bernasib malang. Padahal sudah terpampang jelas janji Allah yang tak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum mereka sendiri yang merubahnya. (QS. Ar Ra’d:11)

Allah sudah menetapkan Takdir berupa sunnatullah (hukum Allah) dalam berbagai bidang, termasuk kekayaan, kepintaran, jodoh dan lain-lain. Kita bisa mendapat itu semua, dengan catatan “selama kita mau bersabar mencari tahu dan menjalankan sunnatullah tersebut”.

Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi, dengan “menuduh” Allah-lah biang dari segala kesedihan kita, baik secara langsung maupun tak langsung. Semoga artikel ini dapat menjadi renungan kita bersama. Dan menjadi manfaat agar kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments