Minta Jatah

Minta Jatah

By. TPj

 


Peringatan, mengandung muatan dewasa, dimohon bijak dalam membaca.

 

“Assalamualaikum” Kubuka pintu rumah kecilku, lalu aku masuk ke dalam. “Wa’alaikumsalam” terdengar jawaban dari Istri tercintaku sambil setengah berteriak dari arah dapur. Kumelangkah ke arah suara istriku, kulihat rupanya sedang sibuk mencuci piring.

Namaku Gio, telah 2 tahun ini aku menikah, dan alhamdulillah kami dikaruniai seorang anak berumur satu tahun yang tumbuh dengan tampan dan pintar. “Dafa mana mah?” tanyaku. “Si Dafa sedang tidur di kamar tuh, bentar lagi juga bangun” jawab istriku tanpa menoleh sambil meneruskan kegiatannya mencuci piring agar cepat selesai.

 

Ah, kesempatan gumamku. Kudekati wanita yang menjadi tambatan hatiku lalu aku peluk dari belakang dengan pelan. “mas apaan sih? Nanti kalau dilihat anak kita gimana?”

“Kan kamu sendiri yang bilang Dafa masih tidur. Lagian, kan kita cuma pelukan. Masih wajar dong dilihat anak. Hehe … ” aku menyahut dan menepis ketakutan istriku.

 

“Mah, kenapa ya kok makin hari mama makin cantik aja. Bikin papa jadi makin cinta aja” Tanpa menunggu jawaban istriku lagi, ku keluarkan jurus gombalan mautku.

“Ih, kalau udah gombal gini pasti ada maunya” terlihat mata istriku memicing sambil menunjuk, dengan menahan senyum dan sedikit tersipu ketika menjawabnya

 

“Kok gombal sih? Ini kan emang papa ngomong tulus dalam hati yang terdalam” Enak aja dibilang gombal? Walau emang bener sih, yang penting pepet teruus.

“Preet” hanya itu jawaban dari istriku, walau baru dua tahun kami menikah. Aku tahu walau di mulut melakukan penolakan,  istriku sangat suka di puji. Bukankah menyenangkan hati istri merupakan salah satu kewajiban suami? Dan sepertinya kali ini sudah bisa masuk ke strategi berikutnya.

 

“Mah, tar malam papa minta jatah ya?” Kubisikkan pelan di dekat telinga istriku yang selalu cantik dimataku.

“Ih, kan jatah minggu ini kan udah abis pah? Salah siapa kemarin minta dua hari sekali?” Aku diberondong dengan kata-kata yang tak bisa kusangkal.

 

“Ayolah ma, tambah sekali lagi aja” rajukku dengan wajah yang memelas. “pleasee … ” kutambahkan kata ajaib itu sambil mengatupkan tangan.

Kulihat dia masih bergeming, seperti sedang memikirkan sesuatu. “kan papa tadi pagi bantuin mama pas lagi repot-repotnya, jemur baju, mandiin Dafa, nyapu halaman depan” aku berusaha memberikan berbagai alasan agar bidadariku ini mengatakan iya.

 

“Tapi kerjaanku masih banyak pah, bentar lagi Dafa bangun, masih ada angkat jemuran dan lipatin. Belum lagi aku masih dikejar deadline kerjaan.” Kulihat ekspresi istriku yang mendadak menunjukkan mulai stres karena masih banyak pekerjaan walau sore hari. Ya, aku dan istriku sama-sama bekerja. Walapun ibu rumah tangga, dengan lulusan bidang arsitek sesekali dia mengambil job menggambar secara paruh waktu. Lumayan lah buat tambah-tambahan kebutuhan pribadinya, walaupun aku juga tak melalaikan kewajibanku sebagai seorang suami yang harus menafkahi keluarga.

 

“Iya deh iya, papa bantuin kerjaan mama. Angkat jemuran, lipat jemuran, jagain Dafa biar papa yang urus. Tapi mau tar malem mau ya?” Takut misiku akan gagal, akupun langsung menjawab apa yang dia cemaskan.

“Oke deh, kalau gitu” aku mendapat jawaban singkat, dengan ekspresi yang sepertinya belum benar-benar ikhlas. “DEAL!” sahutku dengan semangat. Mumpung dia belum berubah pikiran.

 

***

Waktu yang dinanti telah tiba, anakku telah tertidur, aku sedari tadi yang telah bersiap di atas ranjang menanti sang pujaan hati datang untuk memberiku jatah tambahan.

Senyumku tak tertahankan ketika melihat istriku mulai masuk kamar yang berarti pekerjaannya telah rampung. Betapa bahagianya aku. Menurutku, akulah orang yang paling beruntung hari ini.

 

Baru saja istriku naik ranjang, ternyata Dafa anakku menangis. Suasana senang menjadi sedikit panik. “Pah, si Dafa tadi udah diberi ASIP belum sih?” tanya istriku. “Be-belum mah, tadi aku cuma pijitin & gosok-gosok punggungnya. Eh, Dafa udah tidur” dengan merasa bersalah aku menjawabnya.

“Pantesan aja dia bangun lagi, orang ga dikasih minum, ya mesti haus. Ya udah, aku nenenin dulu Dafa” sambil menekuk muka karena sedikit kesal padaku yang lupa kalau dia sedang sibuk, ada stok ASIP atau Asi Perah di kulkas. Dan kebiasaan Dafa anakku selalu minum ASI atau ASIP sebelum tidur.

 

***

Aku tahu, karena kejadian barusan. Mood istriku pasti kurang kondusif. Aku melangkah ke dapur, aku tahu aku harus melakukan sesuatu agar mood istriku bisa kembali positif lagi. Mulailah aku meracik  membuat minuman kesukaanya Teh Melati dengan tambahan cinamon dan sedikit madu. Aku buat dengan penuh perasaan agar sampai juga rasaku padanya yang akan selalu ada.

Pelan-pelan aku masuk kamar, melihat Dafa mulai terlelap. Aku bicara dengan suara pelan setengah berbisik “Mah, ini aku buatin spesial buat kamu” dan kusodorkan pelan minuman hangat dalam cangkir itu kepada belahan jiwaku.

 

Kulihat senyum merekah dari bibirnya, agaknya pemberian sederhanaku ini mampu mengembalikan moodnya yang sempat terganggu karena ulahku. Sambil menunggu istriku meneguk the buatanku, ragu-ragu aku mulai bertanya “Mah, tetep jadi kan?”

“Jadi dong, kan udah janji” dengan wajah ceria dia mengiyakan ajakanku. Alhamdulillah, syukurku dalam hati. Hampir melompat aku kegirangan.

“Ya udah, sana gih buka bajunya, aku olesin minyak gosok buat pijitnya. Pijit kok hampir tiap hari pah-pah. Mbok ya di atur tenaganya itu, jangan selalu di forsir di tempat kerja. Kan akhirnya ngehabisin jatah pijit kalau sering-sering forsir di kerjaan.” Cerocos istriku dengan tempo rap-nya.

End

 

Jangan lupa mampir juga di Minta Jatah (Behind the Screen)

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

6 Comments

  1. Aku baca dua paragraf awal langsung berhenti. Gak aku terusin.

    Openingnya bertele-tele.

    Perbanyak lagi membaca tulisan fiksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, tak main kesana. Buat belajar yang gimana maksudnya ga bertele-tele.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Sudah lama aku nggak membaca karya fiksi. Apalagi drama percintaan seperti ini. Mungkin menurutku masih ada konflik yang tidak terlihat. Jadi kesannya konfliknya cuma di bagian akhir saja. Padahal ditengah konfliknya masih bisa diolah. Eh, ulasanku bener nggak ya 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih masukannya. Konflik yang diangkat emang tentang gimana si Gio menyelesaikan hambatan-hambatan menuju tujuan utama.

      Luluhkan istri, list kerjaan & anak yang nangis.

      Takut banget kalau lebih dari itu malah bikin bertele-tele kaya komen sebelumnya.

      Bingung juga sih, yah. Daripada ga mulai, karena pertama udah pasrah pasti banyak butuh perbaikan.

      Mungkin nanti skill nulis fiksi ini bisa berkembang seiring terus latihan.

      Delete
  4. Latarnya kurang kebangun, konfliknya kurang kerasa..

    Tp cukup ringan utk dibaca

    ReplyDelete