Train To Bussan, Saat Hilangnya Kemanusiaan

Train To Bussan, Saat Hilangnya Kemanusiaan

By. TPj

 


Review Film

Assalamualaikum sobat mikir, gimana kabar? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Yap bener, kali ini cakmin kembali melakukan review –atau analisa lebih tepatnya ya?– sebuah film Train To Bussan. Pertama kali nonton film ini, cakmin dibuat tegang terus hampir di setiap scene yang dibangun oleh sang Sutradara. Dalam film yang rilis tahun 2006 ber-genre horor-Zombie ini, kita disuguhkan dengan berbagai hal yang bisa kita kulik lebih dalam.

Namun kali ini, cakmin lebih tertarik untuk menyorot pada realitas bahwa ada yang lebih berbahaya dari zombie itu sendiri. Ya, manusia ternyata bisa lebih menakutkan dari monster itu sendiri. Betapa hanya karena mengutamakan kepentingan diri sendiri lantas menjadikan lupa bahwa mereka adalah manusia.

Sinopsis

Secara garis besar film ini bercerita mengenai adanya kebocoran sebuah instalasi bioteknologi dan mengakibatkan wabah yang merubah orang menjadi zombie. Zombie tersebut sudah bukan lagi manusia, mereka seperti kehilangan akal pikiran dan meninggalkan hanya hasrat untuk menyerang dan menggigit manusia lain. Manusia yang telah tergigit oleh zombie tersebut, tidak butuh waktu lama juga pasti akan berubah dalam hitungan detik.

Seok Woo, sang pemeran utama berangkat ke kota Bussan menggunakan Kerata Api cepat bersama putrinya. Tak dapat ditolak, wabah tersebut juga melanda Kereta yang mereka naiki bersama ratusan penumpang lain. Dalam sekejap mata, wabah menjadi pecah dan menjangkit hampir semua orang. Film ini menyajikan bagaimana ketegangan tentang usaha manusia yang masih selamat untuk dapat tetap hidup di tengah wabah yang mereka tidak ketahui sebelumnya.

Monster itu adalah manusia

Dari awal film, kita sudah diperlihatkan tentang berbagai adegan yang menunjukkan bahwa manusia bisa begitu egois. Mulai dari sang penumpang gelap yang naik ke kereta yang menjadi awal mula wabah yang terjadi di dalam kereta.

Bahkan pemeran utamanya sendiri juga menutup pintu walau tahu masih ada manusia lain yang belum lewat dengan alasan menyelamatkan diri sendiri. Tak hanya berhenti disitu, adegan demi adegan menunjukkan bahwa banyak sekali perilaku yang menurut cakmin menjijikkan, hanya karena alasan keselamatan diri sendiri.

Politik dan Kekuasaan

Pada film ini, kita juga diperlihatkan ketika ke-egoisan dan kemampuan untuk menggerakkan dan menjadi sosok yang diikuti (pemimpin), bertemu dengan kekuatan tertentu, menghasilkan kekuatan yang lebih besar untuk digunakan memenuhi kepentingan sang penguasa.

Terlihat bahwa tokoh Yon-suk sang antagonis utama, mampu untuk menggerakkan petugas kereta untuk menjalankan kereta dengan radio yang terhubung dengan masinis. 

Pada adegan lain, dia mampu mempengaruhi semua orang yang ada di gerbong manusia yang selamat agar tidak menerima Seok Woo dan rombongannya, yang mengakibatkan bertambahnya korban yang harusnya dapat diminimalisir.

Penggerakan massa ini berlanjut dengan mengisolir rombongan Seok Woo dengan menuduh rombongan yang baru datang merupakan orang yang ter-infeksi dan ingin meng-isolasi mereka. Dirinya mampu menggunakan ketakutan yang dirasakan semua orang untuk menggerakkan mayoritas orang yang se-gerbong dengannya. 

Secercah Harapan

Walaupun dipenuhi dengan adegan yang chaos, ternyata kita juga disuguhkan bahwa masih adanya harapan, ketika manusia masih menggunakan rasa kemanusiaannya dengan menyelamatkan korban lainnya yang selamat. Adegan-adegan ini menjadi harapan bagi kita sebagai penonton film.

Pembatas yang jelas tentang perilaku manusia yang egois dan masih menggunakan rasa kemanusiaan inilah yang menjadi sebuah harapan bahwa sebenarnya manusia akan lebih dapat bertahan jika tidak benar-benar egois dan mau untuk bekerjasama.

Hikmah

Itulah apa yang bisa cakmin petik dari film Train to Bussan, tentang manusia, ego, dan kemanusiaan. Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama. Bahwa saat ini kita memang sedang menghadapi cobaan yang sama-sama berat. Justru rasa kemanusiaan itulah yang dapat membuat kita untuk saling menguatkan.

Hanya orang-orang egois yang tidak mau mengikuti aturan yang digunakan untuk keberlangsungan hidup bersama-lah yang membuat dunia ini menjadi semakin susah. Semoga kita tetap menjadi manusia yang memiliki rasa kemanusiaan.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

5 Comments

  1. Replies
    1. Barusan main di trans 7. Hehee. Sambil nulis sambil liat film.

      Siap edit beberapa biar lebih jelas buat yang belum pernah liat.

      Delete
  2. Film yang mendebarkan. Ternyata Korea pun bisa membuat film yang gak romance aja.

    ReplyDelete
  3. Selalu suka sama ulasannya cakmin~ memberikan sedikit pencerahan buat nonton nggak sekedar nonton, mikir juga hohohi

    ReplyDelete