Who Am I - Part 1

Who Am I?

By. TPj


Berulang kali ku ketik, dan berakhir untuk menghapusnya. Yak, mungkin harus dengan sedikit dorongan tentang aku harus lulus at all cost. Bismillahirrahmanirrahim. Aku bisa, aku bisa, AKU BISA!

Aku anak pertama dari tiga bersaudara, tak ada yang aneh dari keluargaku. Malah banyak yang bisa kubanggakan. Mungkin itulah salah satu aku alasan aku bersyukur bahwa aku dilahirkan 31 tahun lalu, tepatnya tanggal 6 Mei 1989. Kata orang tuaku, aku lahir tepat pada saat menjelang sholat Idul Fitri pukul 3 dini hari. Praktis, kedua orang tuaku melewatkan sholat yang muncul setahun sekali itu untuk menyambut kehadiranku. Anak pertama mereka.

Kedua orang tuaku bekerja. Ayah sebagai tukang bangunan yang seringkali merantau untuk beberapa waktu, mengingat lokasinya tidak selalu di Surabaya tempat kelahiran dan tempatku tumbuh. Sedangkan ibu, bekerja sebagai seorang pedagang pakaian. Kegigihannya selalu menginspirasiku. Tak seperti pedagang lain yang punya lapak, beliau rela mengayuh sepeda ke tempat yang menurutku sangat jauh hanya untuk menawarkan dagangannya, yang pasti tidak selalu bersambut manis. Walau begitu beliau tidak pernah menyerah.

Aku hidup di lingkungan keluarga pedagang, dari sisi ibuku. Mulai kakek dan nenek, kakak tiri ibu, adik-adik ibu, keponakan ibu. Mayoritas adalah pedagang. Bahkan ketika aku sudah bisa berdagang sendiri ketika SD, dengan membawa bando produksi orang tua dari kain percah untuk dijual kepada teman-temanku sekelas.

Walau kedua orang tuaku bekerja, tapi alhamdulillah aku tak kekurangan kasih sayang. Karena jadwal kerja ibu hanya 3 jam di pagi hari dan 2 jam di sore hari membuatku masih bisa mendapat pendidikan dari mereka. Tak ada yang terlalu ku ingat saat SD hingga kelas 3. Namun aku sangat ingat aku selalu mendapat peringkat 3 ter-atas hingga kelas 6 SD. Aku ingat karena sering mendapat tiket gratis di Taman Remaja, Dufan-nya Surabaya karena mendapat peringkat 3 besar.

Aku juga ingat waktu itu seringkali belajar sendiri, bahkan mampu memahamkan temanku dengan bahasaku yang ternyata lebih mudah untuk dia pahami daripada membaca buku pelajaran. Namun aku selalu berusaha belajar bersama kedua teman sekaligus sainganku kala itu. Ya, walau masih kecil, aku sudah terbiasa untuk berkompetisi. Karenanya aku sangat tertolong jika ada lingkunganku yang memberi lahan untukku merasakan hawa kompetisi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, seperti di ODOP kali ini.

Menginjak SMP, aku masih bisa mempertahankan prestasiku, bahkan mulai mengenal organisasi dari ekstrakulikuler bela diri juga sempat menjadi wakil ketua OSIS kala itu, walau di OSIS tak banyak yang bisa aku peroleh, namun aku masih bisa mendapat arti dari organisasi di Ekstra Pencak Silat yang ku ikuti saat itu.

Memasuki masa SMK adalah titik perubahanku, dimana aku berkenalan dengan sebuah organisasi yang memperkenalkanku dengan wajah Islam yang berbeda tapi sangat aku cintai dan perjuangkan hingga saat ini. Berkenalannya pun dengan cara yang tidak umum, aku seperti ditampar bahwa aku tidak tahu apapun tentang Islam walau aku pernah mengaji, tapi hanya sekedar membaca dan menulis saja yang ku bisa. Mengenai apa yang diajarkan aku hanya tahu sekelumit, tanpa tahu bahwa ada “The Big Picture” dari masing-masing perintah kecil tersebut. Dimana kita hanya mengerjakan yang kecil tanpa tahu muara atau filosofis perintah tersebut.

Aku akhirnya dapat tahu, bahwa akan sangat berbeda sekali nilai dan bentuk dari amalan perbuatan anatara orang yang mengerti dan menjalankan sepenggal-sepenggal dengan tahu keterhubungan antar perintah dan filosofisnya. Ya, dari organisasi Al-Kahfi aku bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Bahwa Islam tidak hanya sekedar perintah dan larangan yang parsial. Jauh lebih dalam lagi, bahwa ada orientasi keseluruhan bahwa kita harus menjadi Khalifah Fil Ard, Pemimpin, Pembangun, Agen Perbaikan di masyarakat. Mengamalkan Rahmatan Lil Alamin di segala bidang sendi kehidupan.

Dari situ aku mengenal dakwah, juga merumuskan karir pembangunan masyarakat, dan akhirnya memilih di bidang entreprenur sebagai ladang untuk berkarya, mengamalkan rahmatan lil alamin di sektor tersebut. Berkarya semaksimal mungkin, berharap dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit pahala yang nanti bisa ditukarkan tiket untuk memasuki Surga-Nya kelak.

Aku tahu, perencanaan karirku tidak akan maksimal jika belajar secara otodidak. Di lain sisi, orang tuaku tidak semampu itu untuk membiayaiku untuk kuliah dan belajar tentang manajemen lebih mendalam. Lagi-lagi, seperti mendapat durian jatuh, dari Al-Kahfi pula aku bisa mendapat beasiswa untuk dapat mengenyam pendidikan di STID Al-Hadid kala itu. Di Prodi Manajemen Dakwah aku belajar mengenai organisasi, dan Kepemimpinan, Pemasaran, juga Komunikasi, dan yang terpenting adalah spiritual keislaman yang sangat kuat yang dirasakan setiap mengikuti tatap muka dan budaya sesama mahasiswa selama 4 tahun lebih.

Kesemuanya sangat dapat aku manfaatkan untuk bekalku membangun karir di kemudian hari. Walau harus ada penyesuaian konteks yang berbeda antara organisasi dakwah dengan organisasi bisnis. Tapi secara umum, aku sudah dapat dasarnya. Dan aku yakin bisa menerapkannya.

Bersambung di bagian 2

Catatan : anggap saja ini fiksi.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

17 Comments

  1. masih bingung mau fiksi atau non fiksi ... mau cerpen atau berupa biodata ... hadech ... bingung jadinya liat teman-teman menuangkan kata dengan Indah

    ReplyDelete
  2. Eheheheheh sama-sama bingung di penentuan genre tulisan. Oke, dianggap fiksi kok~

    Dan ternyata kompetensinya di bidang management yaaa. Masyaa Allah suka sama tulsan-tulisan Kak Teguh yang selalu berbobot, namun dikemas dengan renyah.

    Ada part 2 nya yaa?

    ReplyDelete
  3. keren cak ceritanya, mengalir dan selalu renyah. love it

    ReplyDelete
  4. Masya Allah, terharu baca kalimat "agen perubahan" seakan menyentil diriku yg belum bisa berkontribusi secara maksimal pada Islam

    ReplyDelete
  5. waw, seperti perjalanan menemukan jati diri ya Kak :)

    ReplyDelete
  6. anggap saja fiksi, hehe... okelah kak, manut

    ReplyDelete
  7. Masya Allah .. . Akhirnya meluncur juga autobiografinya kang..

    ReplyDelete
  8. Keren dan runtut autobiografinya, Kak. Sukses selalu. :)

    ReplyDelete
  9. Setuju bahwa kita harus bisa membawa perubahan untuk kebaikan bersama. Semoga kita dimampukan ☺️

    ReplyDelete
  10. wah ceritanya menarik, penasaran dengan episode kedua

    ReplyDelete