Who Am I Part 2

Who I Am? Part 2

By. TPj


Karir

Aku lulus, lalu aku memutuskan untuk bergabung bekerja dengan salah seorang teman se-pemikiran dia sudah memulai duluan untuk berkecimpung di bisnis online, bidang retail perlengkapan parabola. Saat itu hanya aku dia dan istrinya saja yang bekerja. Namun dalam waktu kurang dari 2 tahun. Dia mampu mengembangkan usahanya jauh lebih besar dengan 10 orang pegawai.

Banyak yang kupelajari darinya. Apa yang harus dan tak harus kulakukan untuk membuka usahaku sendiri. Dan setelah merasakan bersama bagaimana mengembangkan usaha tersebut. Aku memutuskan untuk resign dan memulai usahaku sendiri. Yah, walau tidak secepat perkembangan usahanya. Namun alhamdulillah masih dapat bertahan lebih dari 2 tahun. Dengan pengakuan dari pelanggan mengenai produk yang kumiliki, setelah serangan pandemi yang sempat meluluh lantahkan keadaan keuangan kami. Kini saatnya untuk benar-benar fokus untuk memikirkan pengembangan, mulai saat ini kedepan.

Aku memulai bisnisku dengan uang pensiun dan tabungan yang tidak begitu besar. Memang aku memulainya dari bawah, namun aku beruntung langsung menemukan format produk yang langsung dapat bertahan hingga sekarang. Walau memang sampai sekarangpun harus terus melakukan perbaikan terus menerus. Hingga akhirnya siap untuk melakukan ekspansi ke bentuk yang lebih besar.

 

Wanita

Selain dengan ibu & pendampingku sekarang. Aku merasa superior hampir di semua bidang, namun tidak halnya ketika berhubungan dengan wanita. Aku memiliki beberapa pengalaman tentang wanita yang mayoritas adalah kegagalan. Hal ini sangat membuatku insecure. Itulah mengapa inginku hanya berfokus pada karyaku sekarang, sesuatu yang bisa aku banggakan, tanpa harus melihat masa laluku.

Alhamdulillah, akhirnya aku menemukannya, seorang wanita spesial yang mau untuk membangun karir bersama. Aku dengan mimpiku, dia dengan mimpinya. Namun tetap dalam satu kapal yang sama. Membangun bersama, saling melengkapi dan membantu. Dengan tujuan akhir yang sama, cara kami melihat dunia, sebagai bekal untuk memasuki dunia setelahnya.

Berawal dari data yang diberi seorang kawan, tentang dirinya yang masih juga mencari. Aku hanya sekedar mendapat kontak orang yang ku sayang sekarang. Meski terpisah jarak yang sungguh jauh, aku di Surabaya dan dirinya di Bekasi, menunggu momentum yang tepat untuk masuk dengan “cara yang alamiah” mengomentari status yang dibuatnya di aplikasi berwarna hitam yang kini telah punah.

Berlanjut untuk berkenalan dengan lebih dalam, tanpa ucapan penegasan. Kuklaim secara sepihak bahwa kita telah menjalin hubungan dan dia menyepakatinya, untuk lebih dalam mengenal dan mencocokan antara keinginan, harapan dan perasaan. Sangat efektif memang, hanya dalam 6 bulan kami memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Saat dirinya pulang ke Surabaya, aku mengutarakan niatku ke orangtuanya bahwa aku ingin lebih serius dan membawa orangtuaku ke rumahnya agar ada kesepakatan yang lebih matang. Walau aku hanya bertiga ketika bertamu ke rumahnya tanpa ada terkasihku karena sudah kembali ke perantauan. Ternyata keluarganya membawa satu mobil penuh untuk membalas kunjungan serta menentukan tanggal kami agar halal.

Semua dikerjakan sendiri, undangan, memilih perias, tenda, bahkan hiasan untuk mahar. Kami sendiri yang membuatnya. Hanya hitungan hari sebelum acara dia baru bisa kembali ke Surabaya. Walau sudah banyak mengenal sebelumnya, ternyata masih butuh penyesuaian yang banyak memang, kami sangat berbeda sekali. Sesuatu yang menurutku tidak penting, menjadi sangat penting untuknya. Pun kebalikannya.

Alhamdulillah, setelah akad itu telah sah. Kami berusaha sekeras mungkin untuk lebih bisa bekerjasama. Sebuah perjalanan panjang memang, tapi kami melewatinya dengan menggunakan 3 prinsip utama. Kesamaan Visi, prinsip managemen organisasi, dan kesadaran akan adanya keniscayaan konflik (baik yang kecil maupun besar) dan harus menangani dengan kepala dingin. Hingga akhirnya kami diberi amanah seorang putra bernama Gumaa Litera Prasetyo. Litera, dari dulu memang ingin memasukkan kata literasi dalam nama anakku. Inilah juga salah satu Big Why aku harus sudah bergelut di dunia ini dengan mengikuti ODOP.

Catatan : sekali lagi, anggap ini hanyalah sebuah fiksi.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments