Film Horor? Kalah Serem

Film Horor? Kalah Serem

 By. TPj

 


Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Tahukah sobat, apa yang lebih seram dari film horor?

Bukan, bukan wanita yang sedang marah entah ibumu atau pasanganmu. Bukan juga anjing galak yang suka menggigit. Masih ada yang lebih galak dari itu semua. Hal tersebut adalah excuse (pembenaran) untuk melakukan sesuatu yang salah.

Mengapa hal ini seram katamu? Seram banget lah! Karena dia lebih berbahaya dari pembunuhan, sekaligus dia membuat candu. Sekali saja kita melakukan excuse, tidak hanya kita akan keluar dari rasa tidak nyaman akan keharusan berbuat yang benar, tetapi juga menjauhkan rasa tidak nyaman karena meninggalkan yang seharusnya.

Wait a minute, gimana sih maksudnya cakmin? Oke pelan-pelan ya, cakmin jelaskan satu persatu. Bedanya adalah

Rasa tak nyaman pra menjalankan.

Rasa ini muncul ketika kita membayangkan konsekuensi dari tugas/pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Dimana rasa ini akan senantiasa mendominasi ketika tugas tersebut belum dijalankan.

Bukan berarti terikat pada tugas formal ya, jauh lebih mendasar. Hal ini berhubungan erat dengan komitmen yang sudah dilakukan di awal. Semisal, komitmen untuk bertemu di suatu tempat dengan kelompokmu. Ada yang bilang Insya Allah karena paham makna sebenarnya yang akhirnya berusaha dengan sepenuh tenaga untuk menepati janji tersebut.

Ada pula yang bilang Insya Allah hanya sebagai “excuse awalan” untuk tidak datang. Karena sedari awal tidak ada komitmen yang dibangun untuk memenuhi tugas tersebut. Sehingga tidak adanya upaya untuk memenuhi janji, juga tidak adanya perasaan yang tidak nyaman ketika dirinya akan melewatkan janji tersebut.

Hayoo, kalau kamu senyum-senyum sendiri pas baca, bisa jadi pernah juga melakukannya ya? Komitmen tidak hanya berlaku ketika dibangun kepada orang lain. Tetapi juga bisa komitmen terhadap diri sendiri. Seperti yang cakmin alami ketika ingin meninggalkan menulis untuk sehari saja, seperti ada rasa yang tak nyaman dalam hati, mengganjal, meronta ingin dipenuhi. Dan akhirnya tetap tertulis juga, walaupun harus telat.

Rasa tak nyaman pasca meninggalkan.

Rasa ini muncul ketika kita secara sengaja maupun tidak ketika meninggalkan komitmen yang sudah dibuat. Misalnya, seseorang tertidur ketika belajar dan lupa belum melakukan sholat sebelumnya. Secara alam bawah sadar akan merasa bersalah dan terbngun karena mengingat dirinya belum menjalankan kewajiban tersebut (asumsinya jika memang benar-benar kuat komitmen yang terbangun sebelumnya).

Contoh lain, ketika memang harus sementara melepaskan kewajiban karena ada urusan mendesak yang lebih penting lainnya. Pasti kita akan merasa tidak nyaman dan merasa bersalah karena tertinggalnya urusan tersebut. Entah dirasakan secara berkesinambungan atau setelah hal yang mendesak tersebut selesai dilakukan.

Membuat ketagihan.

Sudah sifat dasar manusia untuk mengejar suka dan menjauhi duka. Itulah kenapa ketika manusia dihadapkan dengan sebuah peristiwa keluar dari kedukaan, hal tersebut akan menjadi candu karena sesuai dengan sifat dasarnya hal tersebutlah yang akan dikejar. Padahal rasa bersalah, tidak nyaman tersebut harus dipelihara agar kita menjadi manusia yang lurus. Ya dengan catatan setelah merasa bersalah segera menjalankan apa yang menjadi komitmen yang sudah dibangun sebelumnya.

Mencegah candu.

Cara paling mudah untuk mengatasi hal ini adalah dengan senantiasa menjalankan komitmen yang dibuat sebelumnya, tidak merasa pura-pura lupa atau membuat excuse yang dibuat seolah selogis apapun percayalah, dirimu akan senantiasa menemui hal yang sama di kemudian hari dan berpotensi mengulang kesalahan yang sama nantinya.

Oleh karena itu, mumpung belum menjadi habit/kebiasaan/akhlak yang nantinya akan melebar ke masalah yang lain. Segera akui kesalahan, tobatlah. Lalu berusaha melakukan yang seharusnya, menjalankan komitmen yang sudah dibangun sebelumnya. Karena semua manusia memang pernah salah namun percayalah selama kita masih bernafas, selama itu kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Semoga apa yang cakmin sampaikan bermanfaat, terutama sebagai pengingat untuk cakmin sendiri.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments