Iklan Rokok Paling Bermanfaat

Iklan Rokok Paling Bermanfaat

By. TPj

 


Halo Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Walau cakmin bukan perokok, namun cakmin selalu berusaha objektif dalam memandang dan menilai sesuatu. Dimana ketika cakmin melihat ada yang berbeda pada salah satu iklan rokok yang sedang tayang saat ini, dan berdasarkan penilaian cakmin hal tersebut membawa kemaslahatan. Oleh karenanya pada kali ini kita akan membahas tentang salah satu iklan rokok yang menurut cakmin yang paling bermanfaat.

Sekilas tentang peraturan iklan rokok di Indonesia.

Ternyata iklan rokok sangat dibatasi loh sob. Berikut berbagai perundangan dan isi dari aturan tersebut :

Permenkes No. 28 tahun 2013[1]
Penayangan di TV dibatasi mulai 21.30 hingga 05.00 (malam hari saja)
Di Media Teknologi Informasi aksesnya dibatasi mulai 18 tahun ke atas
Menampilkan wujud rokok

Etika Pariwara Indonesia, pada butir 2.2.2 huruf c
Iklan rokok dan produk tembakau tidak memperagakan atau menggambarkan orang sedang merokok, atau mengarah pada orang yang sedang merokok

Ternyata sulit juga ya kalau ingin meng-iklankan rokok. Harusnya dengan ketatnya aturan di atas, idealnya pengguna rokok berkurang atau minimal tidak semakin banyak. Namun fakta yang berkata lain. Jumlah perokok pemula di Indonesia meningkat 240 persen dalam satu dekade terakhir. Hal ini disampaikan oleh Ketua badan khusus pengendalian tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), dr Widyastuti Soerojo, MSC.[2]

Terlepas dari dimanakah kesalahan regulasi yang sudah ada, cakmin ingin lebih fokus pada tingkat kreatifitas perusahaan rokok untuk dapat menayangkan iklan produk tapi tanpa menunjukkan sama sekali produk tersebut.

Dampak bagi Masyarakat

Seperti dijelaskan di atas, karena tidak dapat menampilkan produk yang dijual. Berbagai perusahan rokok menggunakan cara branding dan hal ini diaktuskan pada iklan yang ditunjukkan pada pemirsanya. Ada yang mengangkat sisi humor (contoh : hijau, jarum), ada yang mengangkat visual dan cerita seperti mini film (contoh : mild, black), ada yang mengangkat citra profesi tertentu seperti barista atau petani kopi (samsu).

Memang masing-masing memberi manfaat tersendiri bagi masyarakat, ada yang sifatnya menghibur, juga ter angkat profesinya. Namun ada satu iklan yang berbeda. Walau sebelumnya juga cukup bagus dalam mengkritik kebiasaan atau lebih tepat budaya (karena massif) yang ironi di masyarakat dalam tema “urusan loe, urusan gue juga”.

Kali ini A-mil kembali menggebrak dengan iklan bertemakan sampah (Kecil buat lo, besar buat semua) dengan 8 jenis yang berbeda ditayangkan bergiliran, dengan masing-masing hanya berdurasi 16 detik, namun berulang dan memberi sugesti positif dengan pesan yang tersirat adalah “buanglah sampah pada tempatnya” namun dengan cara yang tak biasa.

Jika iklan ini dipertahankan dan sesuai dengan ilmu sugesti, maka akan dapat merubah pola/kebiasaan masyarakat yang selama ini sudah tahu harus membuang sampah pada tempatnya. Namun nol besar dalam pelaksanaan.

Sekilas tentang Ilmu Sugesti (Pikiran Bawah Sadar/PBS)

Pikiran bawah sadar : Perilaku manusia dikendalikan oleh program pikiran yang tersimpan di pikiran bawah sadar (PBS). Program-program ini sering tidak disadari namun dapat dilacak keberadaan dan pengaruhnya melalui pola pikir, berucap, dan bertindak yang menjadi kebiasaan seseorang.[3]

Program ini dapat terjadi secara alamiah, maupun direkayasa misal menggunakan metode sugesti. Namun, agar sugesti dapat diterima dan diikuti oleh pikiran bawah sadar, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang sugesti.[4]

#1 . Kalimat Positif

Mungkin anda sudah tahu jika pikiran kita lebih mudah menerima kata-kata positif dibandingkan kata negatif. Hal ini terjadi karena secara otomatis pikiran kita cenderung menghilangkan kata negatif.

Misalkan : “Jangan pikirkan Gajah” ->Mungkin sekarang anda sedang memikiran gajah bukan.

Oleh karena itu, prinsip dasar dalam menyusun sugesti yang baik adalah dengan menggunakan kalimat positif.

Contoh : Jangan Malas – > Lebih Rajin.

#2. Sebuah Alur.

Pikiran anda menyukai suatu cerita, gunakan cerita dalam menyusun sugesti. Banyak sekali orang memberikan sebuah sugesti tanpa alur cerita yang jelas, seperti : “Sekarang semakin rajin” diucapakan berulang-ulang. Hal ini saya temukan tidak memberikan hasil yang signifikan. Akan berbeda jika kita memberikan sebuah alur cerita kenapa harus rajin, apa yang didapat jika rajin, bagaimana rajin yang dimaksud. Hal ini bertujuan agar pikiran dapat mencerna sugesti dengan mudah dan lebih spesifik sesuai dengan yang kita inginkan.

#3. Repitisi & Penekanan.

Repetisi atau pengulangan membuat sebuah sugesti menjadi semakin kokoh. Prinsipnya hal yang direpetisi tentunya adalah inti dari sugesti itu sendiri, tidak perlu menggulang ceritanya berulang-ulang tetapi berikan penekanan yang khas pada intinya dan diucapakan berulang-ulang sesuai alurnya.

Contohnya : “Mulai sekarang anda akan semakin rajin belajar, karena dengan rajin belajar anda dapat mengejar mimpi anda, denga rajin belajar anda juga dapat membanggakan orang tua, dan anda akan rajin belajar dengan …. ”

#4. Emosional Value.

Sugesti yang menyentuh nilai-nilai terpenting (value ) bagi subjek akan lebih diterima dan diikuti. Dengan mengenali apa yang menjadi value dari subjek dan menggunakan kondisi emosional cukup intens membuat sugesti tersebut akan menancap kedalam sisi pikiran yang terdalam.

#5. Mudah dipahami.

Perlu dipahami bahwa pikiran bawah sadar memiliki karakter seperti anak kecil, sugesti yang semakin sederhana dan mudah dipahami akan lebih cepat diproses. Akan menjadi suatu nilai tambah jika sugesti menggunakan bahasa ibu dari subjek, karena bahasa ibu merupakan bahasa yang dipelajari dari kecil.

#6. Tidak melanggar Etika dan Norma.

Pikiran bawah sadar menggunakan norma dan etika yang dipercayai oleh Subjek atau Klien sebagai dasar hukumnya. Jika suatu sugesti melanggar norma yang dipercayai klien, dapat dipastikan bahwa sugesti tersebut tidak akan memberikan hasil sama sekali.

Analisa Iklan A-mild Tema Sampah

Sampah ver 1

Sampah ver 2

Sampah ver 3

Sampah ver 4

Sampah ver 5

Sampah ver 6

Sampah ver 7

Sampah ver 8

 

Untuk membuktikan bahwa ikaln ini memang membawa manfaat bagi masyarakat. Cakmin akan melakukan analisa mengenai : 1) Orientasi dari iklan tersebut apakah bernilai baik atau tidak dan 2) Apakah cara yang digunakan sesuai dan dapat mengantarkan tujuan.

Orientasi

Dengan memperlihatkan kalimat utama pendek namun konsisten di 8 jenis iklannya yaitu : “biar kecil, sampah ya sampah” diikuti dengan reward berupa tanggapan narator “cakeep” atau berupa punishment berupa nada sindiran ketika menyampaikan kalimat utama tersebut dan tokoh utama menunjukkan ekspresi malu.

Sehigga, orientasi dari iklan ini adalah untuk merubah mindset masyarakat yang melihat agar menggalakkan kembali budaya membuang sampah pada tempatnya. Dan hal tersebut merupakan kebaikan yang luar biasa jika terjadi secara masif.

 

Cara (Sugesti)

Untuk analisa cara cakmin menggunakan analisa variabel yang digunakan dalam sugesti.

Kalimat Positif – dengan tidak adanya kata jangan atau tidak, maka “biar kecil, sampah ya sampah” merupakan kalimat positif dan sesuai dengan kaidah sugesti.

Sebuah Alur – ke delapan iklan menunjukkan alur permisalan terhadap sesuatu hal yang penting bagi tokoh utama, juga sama pentingya dengan membuang sampah. Sehingga iklan tersebut memiliki alur dan sesuai kaidah sugesti.

Repetisi & Penekanan – iklan ini dismapaikan berulang-ulang hampir setiap iklan selalu muncul, sehingga dengan begitu sesuai dengan kaidah sugesti.

Emosional Value – dengan adanya ekspresi apresiasi dari narator ketika membuang sampah pada tempatnya. Juga malu karena sindir narator. Hal ini menunukkan adanya emosional value dan sesuai dengan kaidah sugesti.

Mudah Dipahami – menggunakan bahasa Indonesia dan tidak memiliki bias makna, menjadikan kalimat utama mudah dipahami dan sesuai dengan kaidah sugesti.

Tidak melanggar Etika dan Norma – Tidak menabrak etika maupun norma manapun, bahkan sebenarnya sejalan. Walaupun secara kenyataan banyak orang lebih memilih buang sampah sembarangan. Oleh karenanya iklan ini sesuai dengan kaidah sugesti.

Dari 6 variabel sugesti yang baik, iklan ini telah memenuhi kaidah sugesti. Disampaikan oleh pakar Sugesti Adigunawan : jika sugesti dapat masuk, sifatnya hanya menciptakan potensi. Namun tidak menggaransi hasil. Walaupun begitu, permasalahan buang sampah sembarangan memang tidak dapat dipandang sebelah mata. Karena walau banyak yang sudah tahu, tapi masih melakukan yang sebaliknya. Diharapkan dengan konsistensi penumbuhan peluang, kelak menjadi sebuah kebiasaan pribadi bahkan menjadi budaya bangsa. 

Referensi : 

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments