Kualitas Konten atau SEO Mana Dulu?

By. TPj


Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Pendahuluan

Beberapa waktu lalu, ada seorang kawan menyayangkan karena melihat postingan cakmin tidak memenuhi kaidah SEO (search engine optimizer). Kata dia, sayang sekali tidak ikut kelas SEO padahal tulisannya cukup bagus dan akan lebih bagus ketika ditunjang dengan traffic (kunjungan) yang tinggi.

Waktu itu cakmin dengan mudah menjawab bahwa sekarang kapasitas belajarnya sedikit, hal ini dikarenakan cakmin bukan seorang pelajar lagi dan harus bertanggung jawab terhadap kebutuhan keluarga cakmin. Kala itu cakmin menjawab memang sengaja memilih membangun kebiasaan menulis dulu, dan menjaga tingkat kualitasnya. Karena menurut cakmin SEO (peningkatan pemanfaatan mesin pencarian) bisa dipelajari belakangan.

Dari kejadian tersebut cakmin jadi kepikiran. Apa benar ya, memang harus belajar mempertahankan kualitas konten dulu sebelum SEO? Apa tidak SEO dulu saja, jika memang kapasitas tenaga dan waktunya harus satu dulu.

Filosofis Blogging

Untuk menjawab permasalahan di atas, cakmin mencoba memahami dulu, bagaimana sih filosofis dalam dunia per-blogging-an. Menurut cakmin, blogging merupakan kegiatan untuk berjualan produk yang berupa pemikiran. Walaupun kita tidak menerima uang secara langsung dari proses jual beli tersebut, akan tetapi mereka menyempatkan waktu untuk membaca dan tenaga serta kefokusan untuk memahami apa yang ingin kita sampaikan. Entah, nanti hasilnya akankan mereka sepakat atau tidak.

Dikarenakan tak ubahnya dengan proses jual-beli, cakmin akhirnya memandang hal ini sebagai kegiatan perdagangan, dimana ada unsur produk dan pemasaran. Sehingga ketika kita memproduksi sebuah produk (baca : artikel) yang akan dikonsumsi oleh konsumen (baca : pembaca). Untuk menignkatkan jumlah konsumen dan mendapat keuntungan, maka kita butuh serangkaian kegiatan promosi (baca : SEO) agar jumlah konsumen kita dapat tinggi dan dapat memberikan keuntungan.

Sehingga, proses pemasaran ini baru muncul ketika sudah ada tujuan keuntungan yang ingin dicapai. Sedangkan ketika ingin mahir dalam proses produksi maka yang lebih dibutuhkan adalah proses belajar dan praktik yang sering disebut dengan magang.

Menjadi pertanyaan sekarang adalah, apa tujuan kita sekarang? Belajar atau Mendapat Keuntugan?

Walaupun tidak memungkiri, untuk belajar memasarkanpun juga butuh kegiatan yang sama. Namun tak ubahnya sebuah kurikulum, butuh MKDU[1], MKDK[2] dan MKK[3]. Cakmin menganggap Keterampilan memproduksi dan memasarkan adalah MKDK terpisah, sehingga jika memang memiliki sumber daya yang cukup (waktu, tenaga, pikiran) bisa dipelajari bersamaan. Namun jikalau terpisah juga tidak ada masalah.

Recalling Merintis Usaha Es Kepal

Ketika membangun usaha ini, tahap paling awal adalah riset produk. Bukan hanya sekedar mencari referensi bagaimana resep dan cara membuatnya. Tetapi lebih penting adalah bagaimana mencoba sendiri membuat resep tersebut dengan asumsi yang ada serta melakukan test produk apakah sudah sesuai dengan keinginan atau belum.

Ketika sudah jadi, umumnya tidak sekali proses mencoba tersebut langsung berbuah hasil yang diinginkan. Proses untuk menjadi produk yang dapat sesuai dengan asumsi kita dan rasa yang diinginkan bisa jadi butuh beberapa kali trial and eror. Baru setelah mendapatkan produk yang diinginkan inilah mencoba proses penjualan.

Cakmin ingat, kemampuan permodalan saat itu sangat terbatas, sehingga juga menggunakan atribut pemasaran seadanya saja. Hanya berupa banner, serta display booth yang rapi. Karena saat itu cakmin berjualan di pasar malam. Baru ketika mendapatkan respon pasar yang baik dan mendapatkan keuntungan. Digunakan untuk melakukan upgrade atribut pemasaran yang lain.

Dari proses recalling di atas, cakmin mengambil satu kesamaan dalam proses merintis yaitu keterbatasan sumber daya. Namun strategi yang diambil kala itu sudah sesuai dengan yang digunakan sekarang dalam proses blogging yaitu mematangkan proses pembuatan produk terlebih dahulu, dan menggunakan pemasaran yang seadanya. Jika sumber daya sudah memenuhi lagi baru bergerak untuk fokus pemasaran.

Mengapa Produk Dulu

Ibaratkan jika produk artikel kita layaknya makanan, ambil contoh saja nasi pecel. Jika rasanya masih belum enak dan tampilannya juga amburadul lalu dipasarkan dengan masif ke banyak orang. Hal ini malah akan menjadi bumerang bagi kita. Karena akan membuat trauma orang yang sudah mencoba masakan kita.

Justru ketika kita sudah merasa yakin dengan produk kita dan melakukan pemasaran sekedarnya (yang membaca juga belum masif), hal ini akan memberi kita waktu untuk melakukan perbaikan jika memang produk yang kita miliki butuh disempurnakan. Jika memang nanti sudah mendapat respon positif dari pasar. Barulah kita memasarkannya dengan masif dengan menggunakan SEO.

Penutup

Ternyata jawaban yang saya sampaikan dulu benar, dan tidak ada lagi keraguan bahwa memang saat ini dengan asumsi keterbatasan yang ada baru bisa belajar untuk menulis secara kualitas secara konsisten. Semoga setelah proses ini selesai dan atau seiring berjalannya waktu juga bisa sambil belajar SEO dan mendapatkan traffic lebih banyak.



[1] Mata Kuliah Dasar Umum

[2] Mata Kuliah Dasar Keterampilan

[3] Mata Kuliah Keahlian

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

1 Comments

  1. Kwokwok bener cakmin, fokus sama konten dulu baru nanti didongkrak naikin traffick. Jangan didengerin itu temennya sesat xDD

    ReplyDelete