Menjadi Orangtua, Mengutamakan Kebahagiaan atau Komitmen?

Menjadi Orangtua, Mengutamakan Kebahagiaan atau Komitmen?

By. TPj

 


Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Ada sebuah percakapan dalam salah satu WA Grup yang cakmin ikuti. Yaitu tentang kesehatan mental, salah seorang menyampaikan tentang sebuah saran secara inti mengenai baiknya kita bahagiakan diri sendiri dulu, sehingga tidak memintanya dari pasangan atau orang disekitar kita. Sehingga secara perilaku, tidak meminta tetapi berbagi kebahagiaan tersebut.

Saran tersebut disampaikan ketika melihat fenomena adanya anak yang sampai bunuh diri. Merembet pada hal ini besar kemungkinan dari variabel orang tua, baik secara pendidikan tentang menjadi orang tua yang baik, salah satunya tentang harusnya kebahagiaan orang tua yang mempengaruhi kebahagiaan anak.

Secara sekilas mungkin baik, namun secara kognisi cakmin kurang bisa sepakat dengan hal tersebut. Karena secara pemahaman cakmin sebahagia apapun seseorang tidak menjamin baik buruknya perilaku seseorang. Contoh psikopat, mereka bahagia tapi kebahagiaan mereka muncul ketika menyakiti atau bahkan ketika menghilangkan nyawa orang lain.

Well, memang contoh yang dipakai ekstrim sih. Juga, cakmin sebenarnya kurang paham konteks munculnya kalimat tersebut atas dasar asumsi apa karena bisa jadi ada beberapa proses pemahaman yang harus disampaikan sebelum menemukan kesimpulan tersebut. Namun terlepas dari semua asumsi dibelakangnya, cakmin memiliki konsep tersendiri untuk menjadi seorang orang tua yang baik.

Komitmen Menjadi Orang Tua.

Ketika seseorang sudah berkomitmen menjadi orang tua, akan berbeda dengan perilaku orang yang sekedar titip benih, atau menganggap seks tanpa perencanaan hanyalah kewajiban yang harus dipenuhi istri dan tak mau tahu akan hadirnya bayi setelahnya, atau ibarat seorang peternak yang membeli kambing muda hanya sekedar dibesarkan diberi makan untuk kedepan bisa disembelih atau dijual guna mencukupi kehidupan tuannya.

Begitulah, memang sedangkal dan sekejam itu pemikiran yang dapat timbul tanpa adanya proses pendidikan keluarga yang baik. Tanpa adanya kurikulum dalam pendidikan formal, juga sering menjadi topik yang tabu untuk dibicarakan antara orang tua dan anak sebelum mereka menikah.

Komitmen untuk menjadi orang tua artinya paham akan konsekuensi yang akan ditanggung sekaligus apa yang menjadi hak dan kewajiban sebagai seorang orangtua. Namun standar orangtua yang baik inilah yang seringkali berbeda. Paling sederhana saja, kewajiban untuk memberi asi yang tertera di kitab suci saja maish banyak yang tidak melakukan, padahal jika hal tersebut tertera di Al Qur’an berarti menjadi kewajiban kedua orang tua sekaligus hak sang anak.

Belum lagi untuk urusan pendidikan. Bukan terbatas pada pendidikan formal, tetapi pendidikan karakter juga spiritual. Seringkali banyak dari orangtua abai mengenai hal ini, bagaimana anak tumbuh menjadi SDM yang berkualitas tidak hanya didasarkan pada apakah mereka sekedar bisa makan saja, apakah mereka mengenyam pendidikan formal saja. Namun lebih fundamental adalah pendidikan karakter dan akidah/spiritual yang harusnya diproses sejak usia dini dan terus menerus hingga mereka lepas dari tanggung jawab orangtua.

Bagaimana jika fokus pada bahagia?

Jika orangtua hanya berfokus pada kebahagiaan orangtua dan anak, maka besar kemungkinan akan menjauhkan dari kedukaan. Termasuk memberi anak tugas-tugas yang seharusnya mereka lakukan. Hal  ini berakibat pada kemandirian dan karakter anak. Mereka selamanya akan menjadi anak-anak tanpa adanya proses pendewasaan diri.

Itulah mengapa, cakmin merasa sangat kurang sepakat jika titik fokus hanya pada kebahagiaan. Karena lebih penting jika kita mengutamakan komitmen daripada kebahagiaan akan lebih mencakup keseluruhan kebutuhan si anak daripada sekedar kebahagiaan. Karena menjadi orangtua tidak hanya sekedar bagaimana anak dapat bahagia, tetapi menjadikan mereka generasi penerus yang setidaknya tidak memberi kita dosa jariyah dengan berbuat kerusakan dikemudian hari.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

7 Comments

  1. Setuju Cakmin, apalagi memberi kebahagiaan dengan selalu memenuhi apa yang anak inginkan. Tanpa memfilter apakah itu akan berdampak baik atau sebaliknya justru akan menjadi salah.

    ReplyDelete
  2. Setuju cak min. Gambaran ideal ya.... Definisi bahagia memang absurd sekarang ini. Iya kalau bahagianya memang jujur karena ya bahagia. Masalagnya banyak yg pura2 bahagia dan gag jujur sama masalahnya...

    ReplyDelete
  3. iya kita perlu bahagia ya ....

    ReplyDelete
  4. Senang membaca perihak parenting. Sebagai bekal.... :)

    Terima kasih kak

    ReplyDelete