Sekolah Daring Berujung Maut Bag 2

Subtansi Strategi Menghadapi Stres

By. TPj



Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Masih ingat beberapa hari lalu cakmin buat artikel tentang stres dan cara mengatasinya? Di situ cakmin menjelaskan keterhubungan solusi yang ditawarkan oleh Kementrerian Kesehatan dengan rumus tentang tegangan yang ada di Fisika. Dari artikel tersebut, diketahui hanya berfokus pada meningkatkan luas penampang. Namun ada satu variabel yang tertinggal, yaitu bagaimana mengurangi Gaya/Tekanan masuk.

Kesalahan sebelumnya pada artikel tersebut adalah menganggap F (tekanan) tidak dapat diganggu gugat. Namun dalam perjalanan, ternyata cakmin menemukan bahwa hal tersebut sama halnya dengan luas penampang yang dapat dicarikan bentuk taktiknya di lapangan psikologi. Namun yang disayangkan adalah, betapa turunan dari pengurangan F ini bukan menjadi solusi utama yang ditawarkan dalam menghadapi Stress.

Lebih Subtansi daripada Saran Solusi Kemenkes

Jika kita mencoba menemukan perumpamaan antara bidang stress dalam ilmu fisika dan psikologi. Cakmin menganggap luas penampang adalah yang disampaikan oleh kemenkes dimana kemampuan diri untuk menghadapi tekanan. Maka tekanan itu sendiri di dunia psikologi adalah masalah yang senantiasa dihadapi oleh manusia.

Entah karena luput atau memang belum ditemukan sebelumnya, justru yang paling utama adalah kemampuan kita dalam memecahkan masalah. Semakin ahli kita dalam suatu bidang, semakin cepat kita keluar dari masalah yang dihadapi di bidang tersebut, semakin sedikit pula tekanan yang diterima dan jauh dari kondisi stres.

Walaupun paham tekanan yang dihadapi seseorang adalah kemapuan untuk memecahkan masalah, namun tidak ada salah satupun dari variabel yang ditawarkan oleh Kemenkes dalam urusan pemecahan masalah. Mereka justru berfokus pada peningkatan kapasitas diri dalam menghadapi masalah (memperbesar luas penampang)

Kapanpun dan dimanapun kita akan senantiasa menghadapi masalah. Oleh karena itu, semakin lama masalah yang ada tidak ada proses untuk menyelesaikannya (mengurangi nilai F), semakin besar pula masalah sekaligus tekanan yang dihadapi oleh manusia tersebut. Sehingga jika tidak ada solusi dalam pemecahan masalah, sebesar apapun kapasitas diri menghadapi tekanan, selama tidak punya kemampuan pemecahan masalah lambat laun akan stres dan depresi juga.

Kemampuan Pemecahan Masalah

Dikarenakan yang utama dalam menghadapi stres adalah kemampuan individu dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Harusnya solusi yang ditawarkan adalah seputar kemampuan pemecahan masalah. Oleh karena itu, cakmin membuat serangkaian cara yang menurunkan dari langkah ilmiah dalam memecahkan masalah.

Kemampuan Mengidentifikasi Masalah

Kemampuan ini sangatlah penting, karena bisa jadi seseorang merasa bermasalah namun masih kesulitan untuk melakukan identifkasi apa masalah yang dia hadapi. Contoh paling sederhana adalah kemampuan untuk menghubungkan seluruh permasalahan menjadi satu, tanpa bisa memilah dan mengelompokkan mana yang masalah mana yang merupakan dampak.

Kemampuan Menemukan Subtansi Masalah

Setelah bisa mengidentifikasi dan mengelompokkan permasalahan, idealnya seseorang bisa menemukan subtansi masalah. Agar tidak keliru dalam menyusun strategi pemecahan masalah. Contohnya adalah ketika menemui anak sedang demam idealnya kita menganggap demam ini adalah gejala, bukan subtansi penyakit. Tetapi jika salah mengidentifikasi subtansi, maka hanya berhenti pada solusi pemberian obat pereda panas.

Kemampuan Literasi (Mencari dan Mengumpulkan data)

Kemampuan ini dibutuhkan di setiap proses pemecahan masalah, mulai mengidentifikasi masalah hingga mencari informasi terkait sebagai referensi dalam mencari solusi pemecahan masalah yang tengah dihadapi.

Kemampuan Melakukan Analisa (berpikir)

Sama dengan kemampuan literas, untuk dapat menemukan solusi. Idealnya seseorang harus memiliki kemampuan untuk menghubungkan data yang ada, mulai dari subtansi masalah yang dihadapi, asumsi yang ada, teori yang ada, sehingga benar-benar lurus untuk menemukan solusi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Kemampuan Merumuskan Strategi

Setelah memiliki solusi, maka umumnya butuh kumpulan langkah untuk mencapai tujuan akhir (selesai masalah). Walau kadang ada yang cukup satu langkah, namun tak jarang harus melakukan beberapa langkah yang berkesinambungan dalam mencapai tujuan tersebut.

Kemampuan Pelaksanaan & Konsistensi

Konsistensi dalam menjalankan strategi yang telah dibuat juga menjadi faktor utama dalam memecahkan masalah. Jika tidak ada konsistensi dalam pelaksanaan, tak ada yang akan berubah dan bisa jadi masalah akan menjadi lebih besar tergantung kondisinya.

Kemampuan Evaluasi

Terakhir adalah kemampuan untuk melakukan evaluasi, baik di proses pemecahan masalah (apakah memang sudah sesuai dengan tujuan akhir) juga evaluasi di akhir (untuk mengetahui apakah sudah efektif dan efisien langkah yang sudah dirumuskan, sehingga dapat menjadi pembelajaran ketika menghadapi masalah yang serupa di kemudian hari)

Penutup

Semoga dengan terkuaknya langkah yang lebih subtansi ini, idealnya dilaksanakan sebagai langkah yang utama terlebih dahulu. Bukan melakukan apa yang disampaikan oleh Kemenkes sebelumnya, karena hal tersebut malah akan berpotensi menambah masalah baru yang artinya memperbesar peluang terjadinya stres.

Memang jika terlanjur stres, proses pemecahan masalah tidak akan dapat dilakukan. Pada kondisi ini baru digunakan langkah yang disampaikan oleh kemenkes. Namun jika belum, idealnya mengutamakan langkah dalam melakukan penyelesaian masalah dahulu.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments