Sekolah Daring Berujung Maut, Jangan Ditambah Lagi Yuk!

Sekolah Daring Berujung Maut, Jangan Ditambah Lagi Yuk!

By. TPj


Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu, 17 Oktober 2020 kita mendengar ada berita mencengangkan tentang tewasnya seorang siswa kelas 2 SMA di Bontotene, Kabupaten Gowa karena bunuh diri diduga depresi akibat terbebani dengan tugas sekolah selama proses belajar daring (dalam jaringan). Hal ini diperparah dengan ketersediaan sinyal internet yang tidak dapat menjangkau desa yang terpencil. (kompas.tv)

Hal ini senada dengan kasus sebelumnya, mengenai meninggalnya siswi kelas 1 SD yang juga meninggal akibat dibunuh orangtuanya, yang sebelumnya dianiaya dahulu lantaran tidak kunjung paham ketika proses belajar daring, yang kini lebih dikenal dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). (detik.com)

Ironi memang, pada saat pemerintah menekan angka penyebaran Covid sekaligus menekan angka kematian akibat pandemi yang tengah dirasakan oleh seluruh dunia. Di sisi lain kebijakan yang mengharuskan siswa belajar dari rumah malah memberi permasalahan baru dengan jatuhnya beberapa korban jiwa baik karena kondisi siswa atau bahkan dari orangtua yang seharusnya membantu dan melindungi mereka.

Ironi lainnya adalah pada saat sekolah dan beberapa kota besar melakukan kebijakan PSBB. Dengan dalih menyelamatkan roda ekonomi, pemerintah sudah memperbolehkan tempat wisata dan tempat perbelanjaan non primer untuk melakukan kegiatannya seperti semula, walau dengan tambahan protokol kesehatan. 

Sebenarnya masih bisa dicegah

Mengingat kebijakan ini dirasakan seluruh anak maupun orang tua, nyatanya tidak semua melakukan hal yang ekstrem seperti dua kasus di atas. Kalau kita bertanya apakah stres? Semua pasti akan bilang seperti itu, baik dari siswa maupun orang tua khususnya emak-emak yang mayoritas bertanggung jawab terhadap anak ketika di rumah.

Sehingga ada yang menjadi pembeda perilaku mayoritas dengan dua kasus yang ada? Karena semua orang merasa stres, tapi kenapa ada yang sampai melakukan perilaku ekstrem? Untuk mengetahui jawabannya, cakmin ingin membuka sedikit tentang stress menggunakan ilmu fisika dan bagaimana solusinya secara subtansi dan secara terapan menggunakan ilmu kesehatan yang ada.

Rumus fisika tentang Stress (tegangan)

Menukil dari Blog Ruang Guru Stress adalah : "Besarnya tegangan pada sebuah benda adalah perbandingan antara gaya tarik yang berkerja benda terhadap luas penampang benda tersebut". Jika dirumuskan adalah :


Cara membaca : jika kita ingin tidak terlalu stress yang ditakutkan berubah menjadi depresi, solusi utamanya ada dua, yaitu 1) Mengurangi tegangan yang masuk. atau 2) Memperbesar luas penampang yang menerima tegangan.

Mengapa tekanan yang melebihi kapasitas sangat berbahaya? Karena akan menjadi efek penghancur, contoh hancurnya kaca yang dihantam palu dengan sangat keras. Hal ini berlaku sama jika yang mendapat tekanan adalah kondisi psikologi, jika kejiwaan hancur akan membuat perilaku mjenjadi tak normal lagi bahkan tak mengindahkan norma yang ada sebelumnya termasuk membunuh atau bunuh diri.

Karena tekanan itu sepertinya tak mungkin dikurangi karena pandemi dan masalah yang mengikutinya (baik ekonomi hingga pendidikan) kecuali jika ada peraturan baru tentang PJJ. Sehingga opsi kedua-lah yang menjadi pilihan. Untuk itu, kita menggunakan pendekatan kesehatan tentang bagaimana cara kita agar terhindar dari stress yang berlebihan.

Pembeda dari artikel kesehatan murni adalah cakmin ingin menghubungkan antara solusi yang ditawarkan oleh artikel kesehatan, dengan rumus fisika yang sudah kita amati bersama.

Cara mengurangi stres

 

Dilansir dari laman kemenkes.go.id dalam ranah mengurangi stress dan mencapai jiwa yang sehat. Ada 6 point utama yaitu :

  • Bicarakan keluhan dengan seseorang yang dapat dipercaya
  • Melakukan kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuan
  • Kembangkan hobi yang bermanfaat
  • Meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri pada Tuhan
  • Berpikir positif
  • Tenangkan pikiran dengan relaksasi
  • Jagalah kesehatan dengan olahraga atau aktivitas fisik secara teratur, tidur cukup, makan makanan bergizi seimbang, serta terapkan perilaku bersih dan sehat

Jika kita cermati satu-persatu point di atas keseluruhannya menggunakan cara untuk meningkatkan kapasitas luas permukaan atau kemampuan diri untuk menghadapi tekanan. Kita ambil contoh membicarakan dengan seorang atau sering disebut dengan sharing. Dengan sharing, luas permukaan akan semakin lebar karena beban tersebut tidak hanya kita yang memikul, namun kita akan merasa ada seseorang yang mau untuk berbagi tekanan tersebut sehingga kita akan dapat

Contoh lain tentang ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini mirip dengan contoh sebelumnya, dengan berbagi tekanan terhadap yang maha esa. Kita akan merasakan keringanan setelah melakuan ibadah dengan khusyu hal ini dikarenakan kita menambah luas penampang kita karena kita membagi maslaah tersebut dengan dzat yang maha agung dan maha kuat.

Jangan lupa, tidak kita saja (orang dewasa) yang bisa mengalami stres, anak-anakpun rentan mengalami hal tersebut. Saran cakmin jika melakukan kegiatan-kegiatan di atas, ajak pula si buah hati untuk melakukan kegiatan yang sama. Semisal mengembangkan hobi memasak mungkin, sehingga hasilnya dapat dinikmati bersama, apalagi ketika makan bersama ditambah dengan segarnya es cendol, ahh surga dunia.

Penutup

Hidup memang selalu bertemu dengan masalah, malah ada yang bilang masalah yang membuat kita tetap hidup. Tetapi ketika tidak dapat mengatur dan mengatasi masalah tersebut dapat membuat orang stres bahkan depresi sehingga melakukan tindakan yang tidak diinginkan dan melebihi batas.

Oleh karena itu, hendaknya kita juga memiliki kemampuan untuk pemecahan masalah dan cara mengurangi stress yang dapat menyerang kapan saja.


#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPBatch8

#TantanganPekan7

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments