Stunting, Bahaya yang Tak Dianggap Ada

By. TPj



Assalamualaikum sobat mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

 Ini sobat mikir yang cowo ga salah paham kan tentang stunting? Walaupun secara pelafalan memang dekat dengan STUNTMAN, ternyata beda banget loh. FYI ya sobat, STUNTING adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama. Indikasinya anak lebih pendek dan memiliki keterlambatan dalam berpikir (awalbros.com).

Kemenkes RI lewat situsnya menyebutkan bahwa Indonesia sebenarnya masuk darurat Stunting Sob. Karena dari 3 anak Indonesia bisa dipastikan ada 1 anak yang stunting, ini berarti sangat banyak sekali. Bisa jadi anak di sekitar kita pasti stunting.

Dampak Serius Stunting

Mengapa cakmin mengangkat tema ini, toh di sekitar kaya adem-adem bae tentang masalah stunting. Kalah sama masalah Korupsi, UU Omnibus dan yang lain, kaya ga kerasa penting-pentingnya gitu. Nah mungkin karena cakmin dan bojo memang sedari awal ingin menjdai orang tua yang baik, akhirnya banyak memilih dan membaca informasi yang memiliki dasar yang Ilmiah seperti Instagram @metahanindia yang selalu menggunakan jurnal ilmiah dalam melakukan edukasi.

Dari proses research itu, kami menemukan bahwa stunting tidak hanya berakibat “remeh” seperti perawakan anak yang kecil. Lebih dari itu, berakibat pada perkembangan otak secara permanen baik secara kecerdasan dan kemampuan mental anak. Hal ini otomatis menjadi alarm yang keras, karena kami beranggapan kemampuan berpikir adalah hal yang utama dalam hidup.

Memang nantinya dapat dilatih dan dikembangkan, tetapi jika wadahnya (otak) memang sedari awal tidak maksimal dan tumbuh sempurna. Hal ini mengakibatkan lebih panjangnya proses untuk mempelajari sesuatu, dengan kata lain akan membuat anak akan tertinggal jauh dengan temannya yang memiliki kondisi yang prima.

Duh Gusti, semoga hamba tidak termasuk orang-orang yang tidak mensyukuri nikmatmu dengan mengabaikan apa yang Engkau titipkan pada kami.

Kesalahan Berjamaah yang (sengaja) Dilestarikan

Walaupun pemerintah sudah menetapkan status darurat stunting, ternyata hal ini tidak diimbangi dengan program yang bagus sob. Karena mungkin ada beberapa dari kita yang baru tahu kalau kita masuk dadurat stunting, atau bahkan tentang apa itu stunting beserta bahayanya.

Proses sosialisasi stunting yang ada setahu saya ada di Iklan Layanan Masyarakat di Televisi yang tidak seberapa efeknya, tidak menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan hal yang penting dan mendesak. Juga hampir tidak ada proses sosialisasi tingkat bawah (level puskesmas) kecuali banner untuk mencegah anak menjadi stunting.

Bukan memungkiri kalau ada program timbang posyandu dan pemberian tambahan MP Asi berupa biskuit tinggi kalori, tetapi hal ini tidak memberikan efek yang serius. Contohnya saja selama hasil timbangan anak masih di zona Hijau, maka tidak dianggap permasalahan. Hal ini akan berbeda ketika membaca grafik (lihat gambar), walau anak belum masuk zona kuning tetapi karena grafiknya mendatar bisa dipastikan bulan depan akan masuk zona kuning kalau tidak ada penanganan, dan hal ini tidak didapat di posyandu.

IGS Dokter Meta

Lain dari segi pemerintah, lain pula dari sudut pandang masyarakat. Jika menggunakan asumsi Indonesia juga darurat Literasi, ilmu tentang parenting sendiri hanya didapat dari orang tua dan orang terdekat saja. Hal ini bisa jadi keliru karena berdasarkan pada pengalaman dan bukan pada ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Hal ini juga yang sering menjadi alasan konflik dengan orang tua dan mertua karena perbedaan ilmu yang digunakan untuk mengasuh anak.

Dilematis orang Ber-Ilmu

Ketika kita memiliki ilmu dan tahu mana yang benar, hal ini otomatis akan membuat kita melihat dengan kacamata yang berbeda dengan orang yang tidak mempelajari ilmu tersebut. Seringnya maksud baik yang ingin kita berikan ke orang tersebut, tidak disambut dengan baik karena adanya perbedaan sudut pandang ini.

Apalagi jika diperparah dengan sifat perasa yang diutamakan oleh emak-emak pada umumnya, alih-alih berterimakasih karena sudah diberi informasi terkini dan yang baik untuk anaknya. Justru dikira kita terlalu cerewet dan mereka menjadi tersinggung karena urusan anaknya dicampuri, bahkan tidak sedikit yang langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak becus mengurus anak.

Lompatan logika inilah yang sering terjadi, masalahnya hal inilah yang sering membuat mispersepsi dan perpecahan bahkan peperangan (duh lebay cakmin). Hayo para wanita, kamu sering begini kan? Iya apa iya?

Itulah kenapa cakmin dan bojo selalu bingung melihat realitas yang tidak sesuai, tapi takut untuk mengingatkan. Akhirnya kami putuskan untuk memilih mana yang benar-benar dekat saja, itupun hanya memberi saran untuk follow akun yang memang memberi informasi yang benar, selebihnya hanya menjawab jika ditanya lebih dalam saja (pasif).

Penutup

Stunting ini memang masalah yang nyata sobat, anak cakmin sendiri sedari kecil selalu mepet ke zona kuning. Inilah mengapa kami selalu was-was selama mendampingi tumbuh kembangnya, senantiasa mencari dan mencoba strategi-strategi baru untuk meningkatkan berat badan yang sebagai indikator apakah anak kami stunting atau tidak.

Semoga rasa khawatir ini juga dapat dirasakan semua orang tua yang mengalami pertumbuhan anak yang tidak normal, yang akhirnya dapat selalu berusaha untuk mengembalikan pada track yang normal dan menjauhkan anak kita dari stunting.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments