Benarkah Adat Istiadat Kebenaran Mutlak?

Resensi Film Human Form (2014)

By. TPj


Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Beberapa hari lalu cakmin scrol-scrol timeline FB, dan menemukan sesuatu yang menarik. Dimana cakmin akhirnya masuk ke sebuah tab FB Watch (kumpulan video yang sedang viral di FB), yang sedang menampilkan sebuah film pendek bertajuk Horor.

Film ini rilis pertama kali 19 Juni 2014 tapi cakmin baru melihat sekarang, walau durasi hanya 12 menit (short film) ternyata mampu membuat cakmin tarkagum-kagum loh sob. Bagaimana tidak film yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Doyeon Noh ini mampu menyampaikan suatu hal yang tabu dan bertentangan dengan sosiokultural (sosial dan budaya) masyarakat Korea Selatan tempat dirinya tinggal.

Menurut cakmin, Doyeon Noh mampu untuk menyampaikan pesan kritik sosial yang walaupun konteks yang diangkat budaya operasi plastik di Korea yang “menggila”. Ternyata jika kita mau mengambil pelajaran lebih dalam, hal ini juga dapat menjadi pelajaran bagi semua orang dengan semua yang berhubugnan dengan nilai dari adat istiadat yang sebenarnya keliru namun tetap dilakukan.

Film yang dibintangi Si Yeon Kim, Ye Eun Lee, Jinseon Son dan beberapa aktor lainnya ini bercerita tentang seorang gadis yang ingin operasi plastik namun terkendala dana. Bagaimana tidak iri, semua orang yang ada di sekitarnya sudah melakukan operasi plastik, termasuk kedua orang tua, saudaranya bahkan sahabat yang belum lama masih “original” akhirnya ikut operasi juga.

Menjadi permasalahan adalah si tokoh utama kita ini menjadi tertekan karena dirinya sendiri yang belum melakukan operasi sendiri karena terhambat biaya. Akankah sang tokoh utama mencapai mimpinya? Silahkan langsung meluncur ke filmnya.

 

Analisa Budaya vs Kebenaran

Cakmin sangat tertarik dengan sudut pandang ini dikarenakan permasalahan yang ditampilkan di film pendek tersebut hanyalah sebuah analogi dari permasalahan yang dihadapi seluruh umat manusia dimanapun dan kapanpun. Mulai dari zaman para nabi hingga masa kini bahkan bisa jadi akan terus menjadi permasalahan hingga masa depan.

Dimanapun tempatnya, manusia pasti akan berhadapan dengan adat istiadat atau lebih sering disebut dengan budaya yang sudah ada sebelum dirinya lahir. Namun menjadi permasalahan adalah, tidak semua budaya tersebut bernilai benar beberapa diantaranya salah dan keliru, semisal menganggap Firaun sebagai tuhan di masa Nabi Musa dan Harun. Masa wali, tegaknya budaya sesajen berasal dari animisme dan dinamisme.

Sekarang sangat banyak sekali budaya di sekitar kita, free sex semisal kita ambil contoh. Mungkin ada berbagai macam pembenaran perilaku seks diluar nikah, yang bisa jadi dari argumentasi tersebut walau tidak sampai membuat kita membenarkan dan mengikuti perilaku tersebut, minimal kita akan dibuat untuk menghargai dan menghormati perilaku tersebut.

Padahal jika kita mau untuk menggali lebih dalam, perilaku seks diluar nikah memiliki banyak mudharat (keburukan) dan mengganggu hukum keseimbangan mulai dari kesehatan pelaku (banyaknya penyakit seks menular) hingga ketidak jelasan sanad (hubungan) anak dengan ayah karena perilaku menyimpang ini.

Manusia dibekali akal fikiran untuk berpikir, idealnya mampu untuk menemukan kebenaran dan menjalankannya dengan baik. Namun kecondongan terhadap hawa nafsu yang kelirulah membuat manusia seringkali meninggalkan apa yang baik baginya dan berbuat kerusakan.

Pada artikel ini cakmin bukan hendak menggeneralisir semua budaya bernilai buruk, akan tetapi janganlah kita menggap semua yang sudah biasa adalah kebenaran dan kita juga boleh untuk melakukannya.

Biasakan yang benar bukan Membenarkan yang biasa

Kebenaran Sejati adalah Sesuai dengan Objektifitasnya

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar Rahmaan [55] : 7 – 11)

Sesungguhnya Allah pencipta seluruh alam, telah memberi hukum alam dan kita sebagai manusia hanya diperintahkan untuk tidak melakukan kerusakan dengan cara berperilaku tidak berlebihan/sesuai dengan prinsip keseimbangan. Bahwa semua yang ada di dunia memiliki “neracanya/titik keseimbangannya” sendiri.

Semisal tentang fitrah untuk makan dan minum, walau ada perintah puasa, kita tidak diperintahkan untuk melebihi fitrah tersebut, hanya sekedar mulai fajar menyingsing hingga terbenam. Bahkan kita diperintah untuk mempersiapkan (sahur) dan berbuka secepatnya ketika waktu telah tiba.

Contoh lain tentang hubungan seks yang dibahas di atas, walau ada fitrah untuk menyalurkan hasrat seksual. Kita dapat mengetahui titik keseimbangannya adalah menyalurkannya pada orang yang sudah halal saja, tidak semua orang. Hal ini akan lebih memberi maslahat karena manusia akan terhindar dari perilaku yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsu layaknya hewan, terhindar dari penyakit serta adanya kejelasan terhadap silsilah dari anak yang lahir.

Semua yang ada di dunia ini memiliki titik keseimbangannya, walau ada yang belum terkuak (tidak dibahas secara tekstual di Al Quran). Tugas kita sebagai hamba inilah yang harus menggunakan akal fikiran kita (afalaa ta’qiluuna) untuk menguak dan menjaga segala sesuatu sesuai hukum keseimbangan.

Penutup

Permasalahan dengan budaya (sikap kolektif masyarakat) pasti akan senantiasa kita rasakan sampai kapanpun, akan tetapi alih-alih terbawa arus. Sikap kita idealnya harus senantiasa berpikir kritis untuk mencari tahu apakah nilai dari perilaku kolektif tersebut benar atau harus dihindari.

Semoga kita tidak menjadi orang yang terjerumus dengan keadaan, melainkan menjadi cahaya di tengah gelapnya malam dengan cara memberi rahmat bagi seluruh alam. Entah dengan karir apapun, dengan kadar seberapapun.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments