Melawan Keterpurukan Selama Pandemi

Perjuangan Pedagang Pasar Malam Selama Pandemi

By. TPj

 


Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Duh, tak terasa sudah memasuki pekan ke-9 ikut ODOP, sekaligus pekan ke dua untuk 1M1C. Kali ini masing-masing grup memberi tantangan yang berbeda, namun akan cakmin jadikan dalam satu artikel. Kira-kira bisa ga ya?

Di grup ODOP memberi challenge mingguan adalah tentang Opini dengan tema: Pengaruh Covid-19 bagi kehidupan para peserta ODOP dari berbagai kalangan. Sedangkan untuk grup 1M1C memberi tantangan dengan tema Melawan. Dari ke dua tantangan tersebut jadilah artikel ini, semoga dapat menjadi pelajaran untuk sobat mikir yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membaca apa yang ada di pikiran cakmin ini.

Sekilas Pedagang Pasar Malam

Sekedar ingin menyamakan asumsi dengan sobat sekalian, dikarenakan tidak semua tahu tentang profesi pedagang pasar malam.

Siapa yang belum tahu tentang pasar malam atau pasar kaget? Pasar yang ada di malam hari ini sering dianggap kebahagiaan bagi sebagaian orang namun juga dianggap gangguan bagi sebagian yang lainnya. Mereka yang bahagia umumnya adalah anak-anak yang jarang mendapatkan hiburan yang akhirnya mendapatkan hiburan tersebut ketika berada di pasar malam.

Bagaimana tidak, di pasar malam umumnya banyak terdapat berbagai hal yang disukai anak-anak. Mulai dari makanan, minuman, mainan bahkan wahana untuk anak-anak juga ada. Bahagia bagi anak, umumnya bahagia bagi orangtua juga. Namun tidak semua orangtua juga sih, hanya yang memiliki kelonggaran kondisi ekonomi dan ingin anak bahagialah yang ikut bahagia.

Mereka yang terganggu umumnya pengguna jalan, karena pasar malam menggunakan akses jalan umum untuk menjajakan dagangannya. Juga pemilik usaha di lokasi tersebut yang kiosnya tertutup aksesnya, tetapi tidak semua pemilik usaha merasa susah. Karena beberapa malah terdongkrak omzetnya karena adanya pasar malam di lokasi tersebut karena adanya pengunjung tambahan yang lewat.

Bagi kami para pedagang pasar malam, musim kemarau adalah musim yang dinanti. Karena tidak banyak hujan yang turun di sore hingga malam hari, saat kami berdagang. Itu artinya, banyak calon konsumen untuk keluar dan berbelanja di pasar malam. Berbeda ketika musim penghujan yang seringnya terjadi hujan saat sore hingga malam di tahun sebelumnya. Pengunjung akan malas keluar yang berarti tidak ada peluang untuk mendapat uang.

Pandemi Datang saat Kemarau

Setelah dihantam musim penghujan di tahun 2019-2020, karena cakmin ingat baru selesai penghujan di bulan Februari pertengahan. Baru beberapa hari kami bisa bernafas lega, ternyata pandemi itu datang dan membuat semua kegiatan di luar di berhentikan. PSBB diberlakukan, Pasar tradisional dibatasi waktu bukanya, jam malam diberlakukan. Menjadi paling terasa bagi kami adalah Pasar Malam tidak boleh ada sama sekali dengan alasan potensi mengumpulkan masa.

Sungguh, hal ini membuat kami para pedagang tidak mendapat penghasilan sama sekali. Bagaimana tidak? Selama berbulan-bulan tidak ada pemasukan, tabungan yang tak seberapa karena harus bertahan di musim penghujan sebelumnya juga menipis, kini harus bertahan lagi di saat kami bisa mengumpulkan keuangan untuk dapat bertahan hidup selama masa pandemi ini.

Tak butuh waktu lama, pandemi ini berhasil menguras habis tabungan, hingga mengharuskan menjual apapun aset yang ada untuk dapat bertahan hidup. Beruntungnya kami, cakmin dan istri adalah orang yang saling menguatkan dan tidak sampai menjadikan masalah ekonomi menjadi pemicu keretakan hubungan.

Bulan pertama, kami sangat mengikuti aturan dan berhasil membuat ekonomi sekarat. Akhirnya di bulan kedua, cakmin memberanikan diri untuk keluar dan mencari lokasi untuk jualan di pinggir jalan. Karena jualan di rumah, hampir tak bisa menghasilkan apapun.

Bertepatan dengan bulan puasa, keluar untuk berdagang. Mencari lokasi yang sudah ada pedagang lain, hal ini agar tidak benar-benar mulai dari nol. Alhamdulillah dapat, walau harus jaga jarak. Omzet yang turun drastis tidak jadi masalah yang penting pulang bawa uang. Walau harusnya bulan puasa omzet berkali lipat, nyatanya harus puas walau tak seberapa.

Modal tergerus itu pasti, tapi lebih baik daripada tak ada untung sama sekali. Bertahan sekuat tenaga, berusaha lebih banyak, juga lebih kencang mengencangkan ikat pinggang. Walau jika memang kurang tak mengapa harus hutang.

PSBB dibuka, tapi

Cakmin sangat ingat, walau PSBB telah dibuka, nyatanya tidak serta-merta membuat pasar malam boleh dibuka lagi. Awalnya pasar yang berjalan adalah ilegal, atau tanpa adanya perijinan dari desa setempat. Mungkin memang tak tahu, atau memilih menutup mata, karena pedagang juga manusia, butuh makan setiap harinya.

Satu persatu pasar dibuka, namun ada pula yang tak pernah dibuka sama sekali hingga kini. Untuk penghasilan? Jangan ditanya, pasti berbeda dengan sebelum pandemi mendera. Tapi bersyukur, masih lebih baik daripada jika tak ada pasar. Sungguh para pengurus pasar adalah orang yang paling banyak pahala karena mau urus perijinan yang pasti sangat sulit dan berbelit.

Penutup

Pandemi ini menyerang semua orang, tak pandang bulu. Entah kaya atau miskin, tua atau muda, sakit atau sehat. Semua terkena dampaknya. Tetapi kita sebagai manusia, yang masih diberi bekal terbesar yaitu akal untuk berpikir. Melawan keterpurukan walau sudah menjadi keniscayaan.

Menjadikan kita sebagai makhluk yang harus bisa beradaptasi dengan keadaan, sepelik dan sesulit apapun itu. Semoga ini adalah ujian yang setelahnya mampu membuat kita lebih kuat dan naik derajat ke yang lebih tinggi. Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita semua.

 

#OneDayOnePost 

#ODOP

#ODOPBatch8 

#TantanganPekan9

 

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments