Sex Education dalam sebuah Komik

Resensi Komik Mistake – Line Webtoon

By. TPj

 

Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Sudah tahu ga sob, kalau 33 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah, ini merupakan hasil dari sebuah survei yang dilakukan Reckitt Benckiser Indonesia di 5 kota besar dengan 1.500 jumlah responden. Tentunya hal ini merupakan hal yang sangat mencengangkan bagi cakmin, dimana adat ketimuran ketimuran kita lebih-lebih nilai agama sudah tak lagi digunakan dalam etika berinteraksi dengan lawan jenis.

Belum lagi permasalahan-permasalahan yang terjadi akibat premartial seks ini sangat menghawatirkan bagi kesehatan fisik maupun mental. Berbagai temuan kasus menunjukkan bahwa masih banyak lagi yang belum teridentifikasi karena fenomena gunung es. Hal ini dikarenakan masih dianggap tabu dan aib, walau dalam posisi penyitaspun akan malu untuk melaporkan bahkan hanya sekedar untuk mengungkapkan.

Mungkin hal inilah yang menjadi dasar dari pembuatan karya komik yang berjudul Mistake. Mulai debutnya di official webtoon di 12 November 2019, komik satu ini langsung mendapat sambutan yang tinggi dari para pembaca. Dengan jumlah pembaca Line Webtoon adalah mayoritas remaja perempuan (analisa Metalu di komik 7 Wonders), sang author mampu menempatkan karyanya di tiga besar kategori komik terpopuler di Webtoon.

Ringkasan Komik

Komik ini berawal dari dua tokoh utama usia SMA yang terpaksa harus menikah dikarenakan tersebarnya video asusila yang kemudian terungkap bukan mereka, awalnya cakmin kurang antusias mengikuti komik ini karena konflik yang ditawarkan adalah mengenai pengungkapan siapa yang menjerumuskan mereka dalam kondisi yang serba salah tersebut.

Namun seiring berjalannya waktu, komik ini malah menguak konflik yang lebih gelap dan lebih dalam, bahwa adanya kesalahan di budaya kita, dan itu nyata. Budaya yang dulu ketimuran menjunung tinggi nilai kesucian sebelum menikah sudah tak lagi ada. Tak hanya satu, namun beberapa tokoh digambarkan sudah pernah melakukan premartial seks di usia belia. Bahkan yang belum melakukan dianggap hina.

Berbeda dengan solusi yang seringkali cakmin dapat untuk permasalahan ini yaitu dengan pendekatan agama. Cindy Chwa sang author, lebih memilih untuk menggunakan pendekatan seks education murni. Mengapa cakmin menyimpulkan murni? Hal ini dikarenakan tak adanya variabel agama yang disampaikan, perempuan yang pernah belajar di Universitas Tarumanegara ini lebih mengedepankan nilai-nilai moral dan kesehatan fisik dan mental dalam menyikapi konflik yang ada pada tokoh-tokohnya.

Nilai-nilai yang Disampaikan

Berikut cakmin merangkum beberapa nila-nilai yang disampaikan dalam komik ini, antara lain:

Jangan terburu-buru Menikah

Beratnya kehidupan pernikahan dimana harus dapat mandiri terutama secara ekonomi, digambarkan dengan baik oleh pengarang. Hal ini tercermin dari penggambaran kehidupan mereka yang walaupun mendapat modal dari orang tua, ternyata tetap akan sulit jika tak benar-benar siap dan tangguh dalam menghadapinya apalagi ijazah terakhir hanya SMP karena tokoh utama di DO karena kasus di atas.

Walau Menikah, Rencanakan Kehamilan

Kemapanan ekonomi merupakan variabel yang penting dalam memiliki keturunan, walaupun sudah sah menjadi suami istri. Menunda kehamilan merupakan solusi yang sangat realistis dalam kehidupan yang mereka hadapi.

Hal ini diharapkan dapat meruntuhkan paradigma banyak anak banyak rejeki yang sudah sangat melekat di masyarakat kita. Cakmin sangat sepakat dengan kampanye ini, karena jika kita sayang anak kita hendaknya mempersiapkan semua dengan maksimal baik secara kesiapan fisik, mental, pengetahuan dan dana sebelum benar-benar memprogram untuk memiliki anak maupun tambahan anak.

Jangan mudah digombali

Dengan adanya peran Melinda dan Mirna yang telah melakukan premartial seks karena dirayu oleh tokoh Nico dengan bujuk dan rayunya. Keduanya bahkan bisa jadi lebih banyak lagi korbannya, rela menyerahkan keperawanan bahkan bersedia untuk menawarkan untuk melakukan hubungan suami istri dikarenakan takut diputusin.

Walau dari adegan tersebut terkesan sangat tak masuk akal bagi cakmin, namun jika dipikir lebih dalam. Ternyata hal ini sangat besar peluang untuk terjadi, apalagi jika perempuan memang tidak ada data dan informasi tentang seks. Entah karena dianggap tabu dan tidak disampaikan orang tua dan sekitar, maupun karena memang perempuan menggunakan perasaan lebih besar dalam menghadapi masalah.

Jangan insecure jika hilang perawan karena kecelakaan

Nilai ini cakmin dapat dari tokoh utama perempuan Kana, yang memang tidak insecure karena kecelakaan ketika bersepeda sewaktu kecil. Dengan kemampuan untuk menggali informasi, tak terlihat sama sekali insecure dalam dirinya. Berbeda dengan ibunya, yang sangat insecure terhadap permasalahan ini.

Ketakutan anaknya tidak ada yang mau karena tidak perawan, membuat sang ibu memutuskan untuk mau saja ketika ada yang mau menikahi putrinya walaupun belum saatnya dan bukan kesalahan anaknya.

Cara Seks Aman

Dengan konteks adanya pegawai (teman tokoh utama bekerja) yang tidak mungkin bisa diatur untuk tidak melakukan premartial seks. Akhirnya solusi yang terakhir adalah menekankan bahwa menggunakan kondom ketika melakukan seks dengan pasangannya. Solusi ini dipilih selain statusnya sekedar rekan kerja, juga karena ingin melindungi sesama wanita jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Penutup

Sebenarnya masih banyak nilai-nilai yang dapat dipetik dalam komik yang masih belanjut tiap hari Selasa ini. Namun untuk lebih lengkapnya, silahkan sobat mikir untuk langsung mampir ke komiknya saja ya sob.

Besar harapan cakmin, jika ada komikus  maupun penulis yang bekerjasama dengan komikus dalam menggunakan jalan yang sama digunakan oleh Cindy Chwa. Hal ini akan sangat efisien dalam penyampaian nilai, daripada dakwah kultural yang bisa jadi akan memakan waktu lebih lama lagi. Semgoa artikel kali ini bermanfaat.

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments