Syarat Untuk Bahagia

Disadur dari buku Merencanakan Masa Depan Akhirat oleh Iskandar Al Warisy

By. TPj


Pagi tadi cakmin tertarik dengan salah satu link dari blog seorang kawan, disitu tertulis “bahagia itu tanpa syarat kalau masih ada syarat artinya bukan bahagia”. Tak perlu banyak pikir panjang, cakmin langsung meluncur menuju artikel blog tersebut. Walau secara isi berbeda dengan judul link, sebenarnya isinya cukup menginspirasi.

Dari situlah teringat beberapa tahun silam, mengenai materi yang sama yang pernah cakmin pelajari dari sebuah buku yang mampu merubah hidup cakmin lebih bermakna. Merencanakan Masa Depan Akhirat mampu merubah cara pandang yang selama 16 tahun hidup di dunia yang awalnya untuk diri sendiri, menjadi dunia adalah medan juang untuk mendapat akhirat kelak lewat profesi pembangunan masyarakat.

Kembali ke topik semula, pada buku tersebut ada salah satu sub-bab yang membahas tentang Hakikat Suka dan Duka. Syarat suka dan duka yang ada di dunia akan berbeda dengan akhirat kelak, untuk lebih detailnya mari kita bahas bersama ya sob.

Jenis Rasa

Berangkat dari teori Hedonis, secara hakikat manusia menginginkan kebahagiaan/suka dan menjauhi kedukaan. Namun pada realitasnya manusia tidak hanya berkutat dengan 2 jenis rasa ini saja (suka dan duka) melainkan juga rasa netral. Sebuah kondisi dimana tidak ada pada kesukaan maupun kedukaan.

Mengapa cakmin mengangkat jenis rasa dahulu, hal ini semata agar menjadi asumsi bahwa rasa tidak hanya bahagia atau duka saja, namun juga ada rasa netral ketika ada di dunia.

Syarat Suka

Agar manusia mendapatkan kebahagiaan, ternyata banyak sekali prasyarat yang harus dipenuhi, antara lain :

Stimulus

Modal

Risiko dalam Mengeluarkan Modal

Kondisi Fisik

Kondisi Psikis

Kondisi Lingkungan

Waktu untuk merasa

Wow, kok bisa banyak hal yang harus ada untuk mendapat kebahagiaan? Mari kita bahas satu persatu ya sob. Kali ini cakmin selain memberi contoh proses mendapatkan kebahagiaan, selanjutnya akan menjelaskan kedudukan per-variabel dari contoh kasus yang cakmin angkat.

Study Kasus

Cakmin adalah seorang yang miskin, dirinya belum makan dari kemarin malam, perutnya keroncongan. Ketika berjalan cakmin melihat seorang pedagang nasi bungkus seharga Rp. 6.000,-. Walau ingin, tapi cakmin tidak dapat membelinya karena uang yang ada saat itu hanya Rp. 2.000,-

Oleh karenanya, cakmin berusaha untuk mendapat kekurangannya agar dapat membeli nasi bungkus tersebut, dia bekerja dengan giat walau dengan perut yang kelaparan. Butuh waktu 2 jam akhirnya berhasil mendapat kekurangannya sekalian untuk membeli air minum nantinya.

Terbelilah nasi bungkus tersebut, tanpa pikir panjang cakmin duduk di depan ruko dan membuka nasi bungkus lalu memakannya dengan lahap karena sudah tak sabar menahan lapar. Baru satu suapan, ternyata ruko tersebut mau dibuka dan diusirlah cakmin dari ruko tersebut.

Setelah pindah di tempat yang lebih tenang, akhirnya melanjutkan makannya, awalnya bahagia. Lalu teringat tentang mengapa hidupnya hancur berantakan, sedih dan hambarlah rasa makanan tersebut. Ketika merenung tersebut cakmin terus mengunyah, tanpa sadar lidahnya tergigit. Akhirnya semakin membuat makanan yang semula nikmat tersebut menjadi tidak nikmat lagi.

Di atas adalah sebuah contoh kasus yang akan mewakili variabel yang akan kita bahas untuk mendapat sebuah kebahagiaan.

Stimulus

Rangsangan, atau dalam hal ini adalah sumber kebahagiaan berasal dari nasi bungkus. Mengapa nasi bungkus menjadi stimulus kebahagiaan adalah karena sangat sesuai dengan kebutuhan cakmin kala itu yang sedang kelaparan.

Harus ada stimulus kebahagiaan untuk dapat merasakan suka, jika tidak ada maka tidak mungkin manusia dapat bahagia.

Modal

Sumber daya, untuk mendapatkan stimulus di kasus ternyata harus mengeluarkan modal yang sepadan untuk mendapat stimulus yang diinginkan tersebut. Memang bentuknya tidak harus berupa uang, bisa apapun tergantung stimulus yang diinginkan.

Jika tidak adanya modal yang cukup, tak mungkin seseorang mampu untuk mendapatkan stimulus tersebut.

Risiko dalam Mengeluarkan Modal

Akibat Negatif, memang di cerita dijelaskan bahwa resiko untuk mendapatkan modal dengan bekerja meluangkan tenaga dan waktu yang cukup. Akan tetapi, walaupun di cerita katakanlah memiliki uang yang cukup. Maka akan menemui risiko kesedihan ketika harus kehilangan modal yang awalnya dimiliki.

Dalam prosesnya, semua orang selalu menemui risiko dalam proses mendapatkan stimulus kebahagiaan, entah besar atau kecil hal tersebut pasti ada.

Kondisi Fisik

Indra yang sehat, di cerita terlihat bahwa cakmin lidahnya sempat tergigit, bayangkan betapa sakitnya hal tersebut. Apakah makannya dapat tetap dalam keadaan suka? Atau jika sakit gigi, sakit perut, kaki berdarah, tangan terjepit dls.

Kondisi fisik harus dalam keadaan sehat untuk dapat meraskaan kebahagiaan.

Kondisi Psikis

Psikis harus sehat, di cerita ditunjukkan bahwa cakmin merasa bersedih meratapi nasib, jadilah makanan yang harusnya enak menjadi netral bahkan tidak enak lagi. Hal ini juga berlaku ketika kondisi jiwa sedang merasa dengki, iri, cemburu, serakah dls.

Ketika psikis tidak sedang sehat, maka rasa suka akan sulit dirasakan, sebagus dan sebesar apapun kualitas dan kuantitasnya.

Kondisi Lingkungan

Lingkungan yang mendukung, di cerita suasana suka ketika makan akhirnya terusik karena diusir oleh pemilik ruko karena ruko mau buka. Hal ini sama pentingnya jika kita dalam kondisi yang lebih ekstrem semisal dalam keadaan perang. Bayangkan jika ketika kita mau menyuap nasi, rumah sebelah meledak karena serangan bom, atau telinga kita terserempet peluru, pintu kita di dobrak dan ditodongi senapan.

Maka lingkungan yang mendukung pun harus ada untuk kita dapat merasakan bahagia.

Waktu untuk merasa

Tidak terus menerus, walau tak ada di cerita pastinya kita tidak mungkin merasakan bahagia secara kontinu selama makan nasi bungkus tersebut. Kebahagiaan dirasakan ketika awal-awal makan, ketika lidah mengecap rasa lauk di awal, setelah melewati kerongkongan bahagia juga akan terasa di awal kekenyangan.

Selepas proses awal tersebut yang kita raskan adalah kondisi netral tidak dalam keadaan bahagia maupun tidak dalam duka. Hal ini juga berlaku ketika kita merasakan kedukaan, hanya saat awal-awal saja rasa itu ada, selepasnya akan muncul lagi ketika kita mengingat-ingat sumber kedukaan tersebut.

Kesimpulan

Bagaimana sob? Ternyata banyak kan syarat untuk kita dapat merasakan kebahagiaan? Sehingga semoga kita bukan termasuk orang yang terlalu memburu kebahagiaan dunia, secukupnya saja, sewajarnya saja.

Karena sebesar apapun stimulus yang nantinya akan kita dapat, sifatnya hanya sementara. Berbeda dengan kebahagiaan akhirat yang sifatnya kekal dan abadi. Cukup kita habis-habisan di dunia yang hanya sementara ini untuk mendapat tiket kekal abadi tanpa kerja dan tanpa lelah dalam merasakan kebahagiaannya.

Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya. (QS. Al Hijr [15] : 48)

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

0 Comments