Takut Promosi (karena) Banjir Orderan

Perjalanan Usaha, Mengedepankan Kualitas

By. TPj

 


Assalamualaikum Sobat Mikir sekalian, gimana kabarnya? Cakmin doakan sehat selalu sekeluarga (aamiin)

Ingin usahanya ramai dan banyak pelanggan merupakan keinginan banyak pengusaha. Bagaimana tidak, ketika ada banyak pelanggan dan orderan yang masuk akan berdampak langsung pada Omzet dan keuntungan yang diperoleh dari usaha tersebut. Sebagai organisasi bisnis, otomatis hal inilah yang menjadi tujuan akhir serta indikator kesuksesan usaha.

Namun bagaimana jika tak semua pengusaha berpikir demikian? Salah satunya cakmin temui kasus ini bojo (istri) cakmin sendiri loh sob. Percaya atau tidak, sampai ada perkataan “Aku ga mau upload (promo di sosmed), takut makin kewalahan & ga maksimal”.

WOW, Amazing, Awesome, Splendid, Superb. Cakmin ternganga saat bojo bilang seperti itu. Ini berarti benar-benar sukses dalam menjalankan usahanya yang baru difokusinya satu tahun belakangan ini.

Dirinya dengan prinsip mengutamakan kualitas hasil produksi di atas segalanya, bahkan takkan segan untuk mendapat keuntungan minim atau malah harus menelan kerugian jika memang kesalahan dari proses produksi yang dilakukannya.

Asumsi Usaha Singkat

Usaha ini bukan usaha yang benar-benar baru, 2 tahun lalu saat bojo sedang hamil 3 bulan mendapat angin segar untuk mendaftar program pelatihan kerja yang diadakan berkala oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) kota Surabaya. Kebetulan bojo kala itu mantap untuk memilih Desain Grafis untuk ditekuni, (sebenarnya sangat besar usaha saat proses pelatihan bojo dulu tapi mungkin diceritakan di lain sesi, intinya cakmin respect banget).

Sebelumnya kami sepakat untuk ekspansi di usaha lain, karena cakmin sudah fokus pada Es Kepal dan di sisi lain bojo ingin juga merasakan kebermaknaan untuk memiliki “hasil karya” dirinya yang bisa dibanggakan kelak. Setelah memilah sedemikan banyak kemungkinan usaha, dipilihlah percetakan undangan karena selain mudah juga lebih santai karena bisa dikerjakan di rumah (menurut kita waktu itu).

Dengan informasi yang lumayan valid untuk menemukan supplier besar, mulailah bojo untuk menjalankan usaha ini. Namun belum genap 1 bulan harus terhambat karena lahiran, praktis semua project yang sudah masuk sebelumnya harus cakmin yang handle untuk diselesaikan.

Mengapa walau secara riil umur usaha 2 tahun, namun cakmin bilang baru satu tahun adalah baru benar-benar fokus lagi untuk menjalankan usaha ini ketika anak kami, Gumaa Litera sudah berumur 6 bulan.

Badai itu Datang

Belum genap usaha yang dilakukan untuk membesarkan usaha, belum keluar semua jurus untuk melakukan promosi secara optimal di sosial media. Badai itu datang dengan tiba-tiba dan tanpa memberi peringatan sebelumnya, meluluh-lantahkan segalanya.

Pandemi ini membuat segalanya berhenti. Tak ada yang berani memesan undangan, karena pemerintah memberlakukan PSBB dan dilanjut untuk meniadakan kegiatan yang berpotensi membuat kerumunan. Semua yang berhubungan dengan pengantin mulai dari undangan, rias, dekor hingga hiburan berubah menjadi mati suri.

Hidup segan, mati tak mau. Hal ini diperparah dengan tidak adanya kejelasan sampai kapan harus bertahan dalam kondisi seperti ini.

Undangan sebelumnya yang sudah tercetak-pun tak bisa terpakai, untungnya masih bisa menyiasati dengan tambahan proses produksi dan biaya seminimal mungkin hingga masih dapat digunakan. Tak banyak yang mau membantu memikirkan atau lebih tepat ber-empati terhadap pelanggan yang telah selesai membeli produk.

Kunci itu adalah Kualitas

Walau di awal proses senantiasa menjadi bahan percekcokan antara cakmin dengan bojo, karena cakmin berpikir murni bisnis dan bojo murni kualitas. Cakmin ingat cakmin sebal dan marah karena akan memasukkan hasil cetak yang tak sempurna namun menurut cakmin masih bisa digunakan karena kesalahannya hanya sedikit.

Berbeda dengan respon bojo, dia memilih untuk membuang hasil tersebut dan mengganti dengan yang baru. Di pikiran cakmin, hal ini akan menjadi kerugian, bagaimana ada usaha yang suka rugi (hampir tidak untung), apa seperti itu layak disebut dengan usaha?

Memang di awal usaha, bojo sangat tinggi penentuan kualitasnya, di lain sisi cakmin juga terlalu rendah. Namun seiring berjalannya waktu menemukan standar kualitas yang ada ditengah-tengah, hal inilah yang dipertahankan hingga sekarang.

Nyatanya sekarang, terbukti dengan banyaknya pelanggan yang melakukan order yang datang di luar proses promosi media sosial (digital marketing). Saat ditanya, ternyata pelanggan-pelanggan tersebut sambung-menyambung mendapat referensi dari pelanggan sebelumnya yang puas dengan orderan undangan di SoulmateInvitation, usaha yang dipegang bojo.

Kegiatan referal atau yang bahasa kekiniannya disebut dengan word of mouth dan bahasa yang lebih umum bagi orang Jawa adalah getok tular inilah yang mampu untuk senantiasa mendatangkan pelanggan-pelanggan baru di usaha bojo.

Penutup

Hasil takkan pernah menghianati proses, kalimat tersebut yang mampu untuk mewakili apa yang dihadapi bojo cakmin kala ini. Namun tentunya tidak melakuakn proses pormosi sama sekali juga bukan perilaku yang bijak tentunya.

Pada artikel berikutnya, cakmin ingin melakukan analisa manajemen untuk meng-optimasi usaha ini agar lebih dapat berkembang, tak hanya sekedar berjalan pelan. Namun harapannya segera dapat berlari lebih kencang. Sehingga apakah pantas untuk meninggalkan sama sekali proses promosi karena takut kebanjiran orderan.

 

Gimana menurut kamu artikelnya sob? Komen di bawah ya!
Kalau menurutmu bermanfaat. Silahkan Bagikan dengan klik salah satu logo di bawah ya!

Post a Comment

1 Comments

  1. Wah, keren nih mas bojonya, bener-bener consumer-oriented, sukses terus usahanya mas

    ReplyDelete